Senin, 29 September 2014

KETIKA HUJAN MENCINTAI UMIRAH RAMATA

Oleh: Fendi Kachonk

Aku hanya mematung melihat dan membaca puisi Umirah Ramata dengan judul “Ketika Hujan Mencintai Kita”. Diam aku menikmati suasana yang diantarkan ke dada malam yang disusui oleh sepi, senyap juga dalam bahasa Umirah ini serasa ketat aku berjalan di rinainya, akupun tak paham kembali, tetapi aku tiba-tiba ingin menulis tanpa dasar apa-apa kecuali dasar rasaku saja yang mendapatkan kehampaan dan kemisterian mendengar kata hujan mencintai kita.

Seperti halnya penulis yang lain, hujan memang selalu bisa jadi tema yang sangat dingin dan memilukan, struktur kata hampa yang terbangun mampu menghanyutkan bayangan-bayangan kecil akan masa lalu, masa kenang yang tanpa tedeng aling-aling selalu dibawa oleh hujan, hujan selalu menunjukkan sisi lemah seorang manusia, yang tak bisa lari dari jejak-jejak kecil, masa lalu, kenangan, rindu, cinta bahkan dendam yang tersembunyi di balik hati yang sepi. Kadang oleh sepi dan hujan itulah, tiba-tiba sang penulis merasakan denyut nadi jadi lamban, detak jantung seolah ada yang menindihnya, maka pada waktu itulah mungkin moment puitik itu tiba-tiba datang tanpa diundang dan menyediakan segudang kata-kata untuk membahasakan hujan.

Aku tak lagi berteori dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang mengikat tubuh puisi tetapi kuresapi aliran yang pelan-pelan memenuhi pori-poriku, yang seolah sedang bermain hujan-hujanan, kata Afrilia Utami, sampai kita demam sebulan, kalau tak salah, atau kita juga menjadi pengingat puisi sang maestro Sapardi Joko Damono, Hujan bulan Juni. Ah akhirnya sekian panjang proses tubuh bahasa dalam nyawa tubuh penulisnya menjadikan tema hujan seolah hidup dan tak akan pernah ada mati-matinya, kuasa hujan sangat meluluh lantahkan kekuatan manusia untuk selalu mengingat yang telah dan pernah terjadi, hanya saja hujan selalu jadi perawan mengikat dirinya kepada para penyair, sehingga hujan juga bisa menetes dari mata yang mengingat hujan yang sebenarnya, dan jarak tempuh dikikis begitu saja, sampai tak ada jarak, antara kerinduan-kerinduan yang telah mengatur jarak, sampai semua tempat, sampai semua ruang kembali utuh dalam imajinasi hujan.

Bagaimana Umirah Ramata bercakap dengan hujan lewat puisinya yang ketika hujan mencintai kita, di sini aku juga merasakan kehangatan yang menetes pelan-pelan dari lembar daun pisang sampai tak ada jarak antara tubuh-tubuh yang awalnya berdiameter serta bersenti meter, sehingga seolah ada syukur yang tak terucapkan, atau diucapkan dengan sengat unik, karena kalau tidak hujan, mungkin kita akan sulit mengenang kehampaan, kebahagiaan, mungkin juga kalau tak ada hujan kita gagal menjadi manusia karena sentuhannya membuat kita rapuh.

Di bait pertamanya, Umirah menjelaskan semuanya dengan mengalir, dan ia menjadi hujan yang rintik-rintik menghanyutkan ke muara tempat segala kenangan itu lahir seperti bayi yang menangisi segala kekurangan bila tak ada orang lain yang memberikan kehangatan. Mari kita rasakan sesuatu yang pelan dan hampa di bait pertama puisi Umirah Ramata ini.

aku masih mencintai hujan
hujan di waktu yang sama seperti saat itu
saat semua kenangan tercipta  dari butiran mutiara langit
langit yang menyenjakan mimpi-mimpi kita

Ada pengakuan, masih mencintai hujan, oleh penulis yang karena hujan itu masih sama seperti hujan yang dulu saat penulis merasakan sesuatu, meski mungkin tidak sama keadaannya, tapi yang sama oleh karena hujan telah menciptakan dan mengembalikan kembali pada titik kenang, titik temu yang ditotok dalam ingatannya, yang tak lekang oleh keadaan, tak berubah karena benihnya telah tumbuh, dan serabutnya semakin menjalar kemanan-mana, sampai tubuh penulis itu seolah hujan itu sendiri. Di bait ini pun terasa sekali ada kehilangan yang terpendam di balik genangan-genangan hujan dan kembali juga rintiknya yang jatuh di genteng serasa mengetuknya kembali.  langit yang menyenjakan mimpi-mimpi kita.

Pada sebaris kalimat dalam puisi Umirah ini aku diam, aku tak ingin menangkap hujan di dalam pikiranku, tapi aku ingin bebas menjadi kenangan yang termaktub dengan perih yang diam-diam menghadirkan kengiluan pada rumah jiwaku. Ah, sepi sekali kata itu, ada yang terbungkus dengan sederhana seolah di balik kata menyenja itu adalah awalnya senja, senja berarti tempat yang ingin digambarkan oleh Umirah sebagai nuansa dan suasana perasaannya dengan bermain simbol itu Umirah mampu membuatku terperosok ke jurang-jurang kehampaan. Karena senja, seolah usia, waktu dan umur, dengan direkatkan ke kata mimpi-mimpi. Seolah ingin juga aku putuskan bahwa ada yang pupus pada hujan itu, hujan yang masih dicinta meski pernah menyenjakan mimpi-mimpi.

Dari bait pertama, jelajah imajinasiku tak mau berhenti dia mencari celah-celah kabar dari hujan. Ada kabar berita apa lagikah yang ingin disampaikan penulis dengan mengatakan aku masih mencintai hujan? Bait kedua aku hadirkan.

sayup suara itu membangunkanku dari sejenak rindu yang diam
diam menuturkan kalimat tanpa titik di bibirmu
bibir yang sejak tadi seolah membunuhku perlahan
perlahan tak pula lekang di telan masa

Benar sekali. Ternyata ada lanjutan gelombang pemikiran yang mengendap dan terlepas dengan ngilunya dalam puisi ini, sayup suara itu adalah rinai hujan yang mengantarkannya, dan rinai itu juga adalah hujan yang terbendung di dalam jiwa, iya malih rupa pada pembentukan dari wajah asal yang kongkrit dalam bentuk hujan yang nyata dan abstrak menjadi sayup suara hujan dalam jiwa penulis. Sayup kerinduan itu telah diam tapi mampu menuturkan kalimat pada titik di bibir seorang, kini hujan itu telah menjadi kata-kata seseorang, mari kita baca bersama ketika ada kalimat “ bibir yang sejak tadi seolah membunuhku, perlahan, perlahan tak pula lekang di telan masa”.

Yang unik adalah, puisi ini berbicara masa lalu, tapi kini ditarik sedemikian pendek, seolah kejadian masa lalu terjadi hari ini, saat ini, dan tetapi dia adalah kekuasaan hujan yang mengantarkannya sedemikian dekat, sedemikian tanpa jarak, sampai ada pentaukidan bahwa itu masa lampau dengan dimansuhnya kembali kejadian hari ini menjadi “tak pula lekang di telan masa lalu”.

hujan masih berdiri
berdiri di depan pintu dengan sebuah kado ungu
ungu yang melekat di bajumu sejak kemarin
kemarin saat kau memelukku erat dalam malam

Tak habis pikir kemampuan Umirah dalam menelanjangi hujan, merobeknya ke bentuk yang lain dan mengepang tubuh hujan di tubuh seseorang yang kini seolah hujan itu sendiri. Kuasa imajinasilah ini yang membuatku semakin khusyuk untuk apa hujan itu hadir dan kenapa dia seolah meranumkan segala kenangan menjadi mungil dan bayi kembali. Di bait inilah ujud hujan itu disulap oleh Umirah dengan manis sekali, dengan hujan masih berdiri di depan pintu dengan kado ungu sama dengan ketika kamu memelukku berkemeja ungu. Aih, Umirah sedang apa kamu sekarang ya? Hujan pertama seolah mengetuk pintu, ia ingin masuk ke dalam jiwa seseorang, dan ia memeluk seseorang itu sehingga absurd juga akhirnya ketika tubuh berlapis ungu itu adalah hujan yang dicintai Umirah. Aje Gile Umi.

Setelah tubuh hujan itu datang, puisi ini semakin mengalir menjadi bagian-bagian yang utuh lihatlah, akhirnya setelah hujan bertandang, ada keakraban dan perbincangan yang intim yang kembali dibangun oleh Umirah Ramata.

kita tak pernah bisa berdusta
berdusta pada mata yang enggan berkedip menatap wujudmu
wujudmu dalam diriku

Wah, ada obrolan hangat seolah bait bercerita sesuatu, kita tak pernah bisa berdusta, katanya. Pada mata yang enggan berkedip menatap wujudmu, wujudmu dalam diriku. Ah, betapa hujan itu telah menyatu setelah berkeping-keping menjadi bentuk-bentuk yang dibangun dalam imajinasinya Umirah Ramata. Dan benar sekali, ada kejujuran kita tak bisa berbohong atau mendustai kehadiran hujan yang selalu punya cara menyatu dan mampu menempelkan kenangan menjadi tubuh kita sendiri. Bagiku dalam puisi ini, aku sangat menikamati, meski mungkin untuk sebagian pembaca yang lain pengulangan kata-kata dari baris ke baris itu akan sedikit mengganggu, Cuma sementara ini aku sangat menikmatinya. Perkara ada pendapat yang lain, menjadi merdeka dalam ruang lainnya.

Dan, walhasil sampai juga pada titik di mana hujan juga akan reda, entah ada apakah ketika hujan akan reda itu? Apakah hujan akan kembali menghadirkan kisah-kisah yang sama memilukan. Lihatlah bagaimana Umirah menghentikan semuanya.

ketika hujan mencintai kita
kita bukanlah siapa-siapa

Demikianlah, Umirah Ramata menutup puisinya dengan sedikit gerakkan tangan ke langit dan menadah hujan-hujan akhir dalam dirinya, tubuhnya, tubuh hujan sendiri sambil ia berkata : ketika hujan mencintai kita, kita bukanlah siapa-siapa. Memilukan dan kita kembali berbicara hak miliknya, kita hanya menikmatinya saja tanpa bisa memilikinya, dan hanya kerinduan yang akan terus berdoa semoga hujan esok kembali, dan kau kembali menjadi hujan yang selalu membuatku rindu, kata Umirah pelan-pelan.

Mohon maaf akhirnya pada hujan dan pembaca, saya menikmati dengan cara saya tanpa kaidah apa-apa.


Ketika Hujan Mencintai Kita

aku masih mencintai hujan
hujan di waktu yang sama seperti saat itu
saat semua kenangan tercipta  dari butiran mutiara langit
langit yang menyenjakan mimpi-mimpi kita

sayup suara itu membangunkanku dari sejenak rindu yang diam
diam menuturkan kalimat tanpa titik di bibirmu
bibir yang sejak tadi seolah membunuhku perlahan
perlahan tak pula lekang di telan masa

hujan masih berdiri
berdiri di depan pintu dengan sebuah kado ungu
ungu yang melekat di bajumu sejak kemarin
kemarin saat kau memelukku erat dalam malam

kita tak pernah bisa berdusta
berdusta pada mata yang enggan berkedip menatap wujudmu
wujudmu dalam diriku

ketika hujan mencintai kita
kita bukanlah siapa-siapa

Taipie, 17 Juli 2014

DI BALIK HUJAN KAMPOENG JERAMI ADA DAUN-DAUN HITAM YANG BASAH

Oleh: Fendi Kachonk 

“Sebuah catatan proses agenda”
Peluncuran Antologi Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun Hitam
Oleh: Fendi Kachonk

“Semalam ada berapa hal yang tak aku nikmati, sembari ingin memejamkan mata, ingin terlena dibuai mimpi. Tapi, tak bisa aku kalahkan berapa pikiranku. Agenda yang aku susun hari ini, dan berapa halnya lagi aku tak mengerti datang, timbul lalu tenggelam."

“Hey, Fen!” sapa Encing, seorang yang aku tak paham dari mana awalnya mengenali dan dekat sekali. Bekerja di Pos Lenteng, tempat aku ngutang duit, bahkan kadang kantor pos aku jadikan tempat aku singgah, istrihat, makan dan minum serta pernah aku jadikan kantor Pos Lenteng sebagai tempat pertemuan kecil dengan kawan-kawan kala tak menemukan tempat yang gratis saat ada acara ngumpul bareng semacam diskusi.

Jam, 6.23 WIB, aku sudah rapi, dengan berbagai daftar kegiatan hari ini. Tiba-tiba aku merasakan ada sedikit keharuan. Melihat tumpukan buku “ANTOLOGI HUJAN KAMPOENG JERAMI” lalu terbayang semua kejadian, seminggu yang lalu kami mengadakan tiga acara peluncuran buku,”Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-Daun Hitam” kumpulan cerpen seorang kawan dari Lampung.

Perempuan itu kadang aku panggil Yuli Nugrahani, Kadang juga aku panggil Kakak, tapi tak pernah aku panggil dia dengan sebutan mba’ karena aku selalu menganggap kakak, dan kurindukan kakak laki-laki dalam kehidupanku. Maklum kakak dan adikku perempuan. Oleh berapa ingatanku, aku sempat tertegun. Wajah Umirah Ramata, adikku yang ada di Taiwan, Lia Amalia Sulaksmi, Teteh, begitu biasa aku sebut dia. Tangan-tangan mereka yang mampu dan sabar selama ini berproses dengan kami, membangun Kampoeng Jerami dengan semangat, naik turun emosi dan semua luapan kejadian yang sama pernah kami alami.

Lebih kurang dari setengah bulan, aku, Yuli, Lia, dan Umirah memutar dengan cepat proses Buku “ Hujan Kampoeng Jerami” itu proses yang sebelumnya berapa bulan sempat terkendala. Tetapi, semangat yang luar biasa dari mereka membuat buku ini siap. Kemarin tepatnya seminggu yang lalu, aku mengulang kenangan, pada hari : Jum’at, 5 September 2014 kami meluncurkan buku Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun Hitam. Di tiga tempat itu ada pos kerja yang sangat aku banggakan dengan kegigihan anak muda yang luar biasa semangatnya, aku biasa memanggilnya dengan sebutan “alek” dalam bahasa madura yang bisa diartikan ke Indonesia dengan “adik”.

Ferli seorang adik yang mengawal pertemuan pembuka dan sangat takjub, agenda yang aku pikir akan sangat kecil tingkat kehadiran peserta malah sampai full dan tak kurang dari 50 orang jadi peserta. Tak kalah membanggakan fasilitator yang menyempatkan diri di mana kesibukannya sangat padat. K. Muhammad Muzammiel El-Muttaqien berkenan hadir dan membuat situasi hangat serta menyehatkan.

Oh, waktu begitu cepat, seminggu yang lalu itu telah berlalu, tinggal kenangan dan kumpulan semangat untuk merenda hari dengan berproses dan belajar terus masih kental di dalam ingatan. ingatan aku juga berputar pada suatu siang, setelah acara di laksamuda Sumenep kami evaluasi dengan sederhana bersama kawan-kawan, “Sukses acaramu, Fen”. Ujar kawan-kawan kepadaku. Dan pada saat itu, setelah berapa saat mengajak Yuli berputar di seputaran kota. Melihat keraton lebih dekat, dan lalu aku harus fokus pada waktu pertemuan kedua di Pondok Pesantren Putri “ Tarbiyatul Banat.” Di hape sudah ada berapa kali miskol, tepatnya telpon yang tak terangkat dari K. Ali Faruq. Sesampai di rumah, aku masih mencuri pandang pada wajah Yuli yang masih kerap tersenyum dan siratan letih mulai ada. Tapi, aku memang sangat kejam ketika sudah fokus. “Yuk, Yul. Kamu boleh mandi atau cuci muka sebentar lagi kita berangkat.” Kataku pada Yuli dan Yuli tak ada komentar hanya menuruti. Ih. Maaf ya, Yul. Bisikku dalam hati.

Lalu teringat pada kawanku yang sangat luar biasa dalam membantu aku selama ini. “Sigit, kamu di mana?” Bathinku. Aku SMS Moh Ghufron Cholid. Lalu mereka berdua segera sampai di rumah, Sigit selama ini begitu sangat peka mengambil peran-peran penting yang tak bisa aku lakukan sendiri. Karena memang ketika dalam ruangan, aku tak bisa ada di dua keadaan, moderator dan mengambil dokumentasi. Maka Sigit sangat sigap mengambil peran itu dan memainkannya dengan mulus. Temanku yang satu ini memang luar biasa, dia bisa memahami gerak dan kebutuhanku tanpa aku harus ngomong. Jiwa senimannya yang seorang pelukis, pemusik dan penulis mengasah kepekaannya selama ini. Terima kasih banyak cuy.

Siang itu, dengan rasa yang mulai letih, oleh sebab sebelum masuk pada kegiatan di Sumenep, kami berlima, aku, Yuli, Gufron, Jailani, dan Ferli adikku ini masih juga berdiskusi di Asta Tinggi, membaca puisi dan cerpen dilanjutkan ke Taman Bunga Sumenep dan tentu kami ngopi bareng demi merayakan satu keindahan dengan cara sederhana, lesehan di Taman Bunga.

 “K. Faizi apa bisa rawuh, Fen?” Tanya K. Ali Faruq. Dan, aku mulai kebingungan ada yang lepas dari ingatan untuk mengkomfirmasi ulang ke K. Faizi. Beliau aku sms, aku telpon dan belum ada jawaban. Tapi, selang berapa menit kemudian. “saya sudah siap-siap mau berangkat.” Sms di hape jadul saya memberiku telaga yang bening oleh konfirmasi K. Faizi tersebut.

Aku berjudi dengan waktu, sesegera mungkin acara segera kami mulai, Nyai Ulfah sebagai MC mulai mengatur acara dan memperkenalkan Yuli Nugrahani, Ufron dan Sigit telah bertindak sebagai penyokong keberhasilan acara di sana. Sampai pada sesi acara diskusi dan bedah buku, “Antologi Hujan Kampoeng Jerami dan Daun-daun hitam.” Aku memandu. Sambil menunggu kedatangan K. Faizi, aku dan Yuli memberi semangat kepada santri perempuan untuk menulis, menulis apapun, mulai dari sekarang dan jangan ditunda, itu inti dari yang kami sampaikan berdua.

Wow, mataku dan Yuli tak berkedip melihat K. Ali Faruq membacakan puisinya dan sangat luar biasa, aliran energi di ruangan itu jadi hangat sekali. Aku merasakan ada di tempat yang membakar seluruh badanku. Yah, oleh semangat yang buncah. Sekitar 15-20 menit K. Faizi sudah bergabung bersama kami. Beliau dengan lembut, serta humor yang manis memberikan suasana yang luar biasa jadi gurih dan renyah. Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah mau magrib. Akhirnya usai sudah agenda. Kami akhirnya berpamitan, terlebih dahulu aku berterima kasih kepada K. Faizi dan akhirnya beliau pamit undur diri lebih awal karena persoalan pesantren yang sudah menunggu beliau. Di Tarbiyatul Banat inilah, dulu aku mengenal K. Faizi,  sewaktu beliau jadi Juri baca Puisi Tingkat Madura dan kebetulan saya jadi di antara pemenangnya. Pada waktu itu, K. Mursyid begitu aktif dan hatiku kembali berbisik. Mari kita gairahkan kembali K. Mursyid. Serupa doa aku lepas dengan memandang langit.

Moncek sudah diselimuti malam, sampai juga di rumahku, Taman Baca Arena Pon Nyonar, taman baca sekaligus tempat aku menulis dan membaca. Yuli sudah aku lihat kuyu, hanya binar matanya masih berbicara, tepatnya, sok kuat dan masih bergairah. Sedang geraknya mulai lamban. Aku meminta Sigit menemaninya. Sedang aku pura-pura menemani Surga hanya untuk sebentar memberi lelap pada mataku. Ah, akhirnya kami dapat telpon dari adikku. Hasmidi Ustad ketua Sanggar Rakyat Merdeka dulu kami berproses bersama di sana. “Kak, Kawan-kawan KKN INSTIKA putri sudah ngumpul. Mariklah mohon dicepatkan rodanya.” Aku tersenyum dengan bujukan manis adikku yang kemarin jadi lulusan terbaik di sebuah perguruan tinggi di kotaku ini. Dan, mereka paham, dalam keletihan mereka tak akan mendesakku, kecuali membujukku dengan lembut. Aih. Ah. Lebay kau, Fen. Biarin. Hehe.

Bukan karena ada Yuli di motorku. Tapi, memang dalam setiap segala suasana, aku biasa menyanyi waktu naik motor, waktu apapun, apalagi saat letih dan capek. Aku biasa menghibur diriku. Inilah cara paling hemat untuk kembali melonggarkan syaraf-syaraf otakku. Dan memang luar biasa, berasa semangat, berasa muda dan lagi, dan yang paling hebat jarak tempuh tak terasakan sama sekali. Sedang yang aku bonceng mungkin telah hidup dengan dunianya. Melamun dan bisa jadi sedang bilang, “Ne, anak kok gila ya?”

Maka, sampai pada tempat itu, tepatnya acara ketiga kami sangat menarik dan sangat tak kalah unik dan menggemaskannya sama dengan dua acara sebelumnya. Yuli jadi magnit, dan pembicaraan mulai soal tulis menulis sama seperti jarum jam yang terus berputar. Bergantian. Hasmidi, Ufron dan Mahasiswi membacakan Kumpulan Puisi Hujan Kampoeng Jerami dan Yuli Membacakan satu cerpennya dari kumpulan cerpen Daun-daun Hitam. Sampai akhirnya Yuli menutupnya dengan pantun yang tak kalah legitnya.

Kami pulang, Jailani, Ufron, Sigit, aku dan Yuli sampai juga di rumahku. Yuli bertanya, “Fen, kita berangkat jam berapa ke Surabaya? Yang pasti saya harus sampai di Kediri sekitar jam 8 atau paling telat jam 9 karena aku harus meminta sarapan kesukaanku pada ibu. “Jam 11.30 “. Jawabku. “Oke” kata yuli. “Kalau begitu aku aktifin alarmku ya?”. Tapi, setelah jam 11 malam ke setengah jam selanjutnya tak ada tanda Yuli bangun, dan aku paham pasti dia capek kataku. Dan aku akan memenuhi undangan kawan-kawan di Surabaya untuk monolog "suara-suara hampa" di Dewan Kesenian Surabaya.

Sampai jam 12 malam aku gugah. “Kak, Kak. Jadi pulang malam ini” suaranya parau. “Iya,” katanya. Dia pun keluar dari kamar dengan masih melipat wajah dengan bentuk persegi empat. Aku tersenyum. Di hatiku membantin, kau tak sempat makan nasi jagung, sate madura, dan legen. Tapi, aku juga merasakan keletihan, bagiku. Dan Yuli, mengingat masa muda waktu masih disebut aktifis jalanan, kami akhirnya bergerak ke Prenduan. Yuli dan aku. Sigit dan Ufron melaju dan menerebas dingin desa-desa kami.

“Uiy, Fen!” Encing mengagetkan aku. “Melamun saja dari tadi” lanjutnya dan ternyata aku melamun di kantor Pos Lenteng. "Eh, Cing, duitku tak cukup neh, aku hanya ada 150 ribu. Ngutang dulu boleh gak?” kataku pada Encing si Pegawai Pos itu.

“Boleh, apa yang tidak untukmu, Fen.”

Aku tersenyum dan semua mengalir bersama dengan waktu, proses kami baru mulai dari buku Hujan Kampoeng Jerami membuat kami sadar. Bahwa hidup akan selalu terus berlalu, dan aku bagian orang yang tak mau diam tanpa melakukan sesuatu. Aku tak mau menunggu, bergerak dan belajar bersama, tersenyum dan bergembira. Inilah aku. Inilah kami yang sangat bahagia dengan proses sederhana kami. Mari terus menulis. Mari saling mendukung. Tak semudah membalikkan telapak tangan, semuanya butuh proses. Dan kuatlah wahai seluruh teman-temanku.

Demikian, terima kasih untuk semua orang yang telah mendukung Kampoeng Jerami.


Kamis, 17 April 2014

Diskusi Esai dan Puisi (Fendi Kachonk) 15 April 2014

Selamat malam kawan dan para keluarga semuanya, mari kita berdiskusi tentang Tulisan Teratai Abadi ini, kita santai saja, mari dan sila menghadirkan pendapat dan menggauli puisi ini dengan santai penuh kekeluargaan dan tak ada saling menjatuhkan tetapi belajar bersama.


aku pulang
jalan-jalan terakhir menemui
rumah kita yang bocor
dindingnya rapuh dan duka
tiang rencam dimakan hari
namun serinya masih disitu
menunjang tempias merobek pilu
oleh sejarah yang pecah
lautan waktu

aku sedang pulang, sebenarnya
pasiran putih menyusur nurani
akar dan akal menyisa ruang tidak sedikit
pada pandang pertama
pelabuhan yang kutambat
perahu mimpiku

kenangan sering merodakan isak
meluruh hingga basah jemari
'tika cuba kusapu gementar tapak-tapak rinduan
lebarkan senyum
padamu yang jauh.

Katanya, ini kanvas
seluruh seluruh resah jinggaku
dan diam.

-150414/2pm-
Teratai Abadi.

Pertama kali aku baca tulisan Tata dalam bentuk puisi, seperti aku merasakan di sebuah kepulauan yang indah tetapi memilukan, awalnya imajinasi saya menembus berapa ruang keindahan tersebut dengan melihat pasiran putih dan birunya laut yang menghampar, tetapi ketika ombak mengulum sepi, makin senyap aku merasakan bahwa selalu saja, lautan itu menjelma lautan yang lain, mungkin itu lautan kisah, lautan kehidupan yang selalu seimbolik dan dilepas dengan selalu ada yang datang dan ada yang pulang.

Tetapi lautan itu bukan lautan yang sebenarnya dalam tulisan "aku pulang" ini, di dalam sana, gambaran itu lahir dari rumah, gubuk, istana hati dalam imajinasi yang lahir dari penggambaran rasa dan perasaan aku lirik, yang mengandaikan dua orang yang ingin diceritakan, memiliki rumah di pinggir laut, meski sederhana, meski tak cukup mewah, mungkin satu keindahan yang luar biasa, tetapi keindahan itu menjadi terdampar, dengan penggambaran yang lain, aku lirik membahasakan jiwanya dengan pendekatan rumah kita telah bocor, dinding yang yang rapuh dan seterusnya di bait pertama itu adalah bagian dari pengimajinasian dan pengandaian ada luka yang bergumul dalam kehidupan aku lirik dengan obyeknya, betapa senyap luka itu, dirobek-robek, dikatakan rapuh segala itu yang saya rasakan dari mendekati puisi ini lewat emosinya.

Saya masih tak ingin melepas imajinasinya ini untuk tidak runtuh dan mencoba mendekatkan bait pertama dan bait kedua yang saling punya ikatan, bila yang pertama aku lirik bermain dengan gubuk atau rumah, kini aku lirik di bait kedua bermain dengan lautan, dua simbol yang telah saya coba satukan lewat mengimajinasikan harapan aku dan kau memiliki rumah di pinggir laut, dan ternyata masih saja ikatan itu sangat kuat sekali. indah ternyata puisi ini, keindahan itu hampir samar tak terbacakan tetapi melihat susunan perasaan yang sublim dan penuh pengendapan serta ketenangan akan ada yang lebih menarik nanti baris terakhir, itulah yang saya tangkap kejelian penulis memainkan sajaknya untuk mengelabui pembaca, pun begitu saya masih ingin berenang dalam kuasa puisi ini menyeretku ke dasar lautan imajinasinya, pertama ada rumah ini mesti kita catat dalam ingatan kita, kedua ada lautan.

Sekarang saya sudah sampai pada tumpuhan dari sajak Tata ini, baris terakhirnya ini menghilangkan semuanya, bukan berarti dia kurang indah, tetapi saya berani mengatakan inilah keindahan perasaan jiwa yang meletup pelan-pelan dan moment puisi yang segera ditangkap oleh penulisnya, dan sepertinya saya meyakini, bahwa semua ini adalah letupan emosi yang dengan sendirinya menyusun bait-bait tanpa logika sadar, tetapi berhasil dengan begitu saja. mari kita runutkan dan kita tutup bersama betapa puisi ini telah sempurna menyelinap dalam ruang dan imajinatif sekali, baris penutupnya saya hadirkan utuh agar saya bisa dapat teguran bila memang saya salah :
Katanya, ini kanvas seluruh seluruh resah jinggaku dan diam.

Inilah bait penutup dari sajak pulangnya Tata alias Teratai Abadi, bagaimana tidak sangat imajinatif sekali, bila kembali kita rekatkan rumah, lautan dan kenangan yang ternyata seperti lukisan atau bisa jadi yang dipandang tata ini adalah lukisan, ini juga yang saya maksudkan betapa bait-bait dalam puisi ini sangat mengecoh, dan ternyata inilah kehidupan yang seolah lukisan akan kita pandang selalu saat waktu telah tak membuat kita bersama, dan saat semua akan pulang, maka yang tinggal adalah kenangan yang tersisa di pikiran yang belum pulang.
Moncek Tengah, 150414

Like ·
  • Fendi Kachonk, Lia Amalia Sulaksmi, Sigit Enstiwistle and 17 others like this.
  • Fendi Kachonk malam kak Yenni, hehe yukk...kita santai dengan menelaah puisi ini... April 15 at 9:08pm · Like · 1
  • Fendi Kachonk Mas Romi Anggara dan Bang Djemi monggo dihaturkan duduk bersantai di sini dengan membaca puisi ini Teh Lia Amalia Sulaksmi, Kak Ezah Nor moonggoo hehe April 15 at 9:11pm · Like · 3
  • Moh. Ghufron Cholid Kenapa tak berjudul fen puisi April 15 at 9:11pm · Like · 1
  • Fendi Kachonk memang belum diberi judul sama orangnya, karena ini aku curi dari Wallnya Fron, colek Teratai Abadi hehe April 15 at 9:12pm · Like · 2
  • Moh. Ghufron Cholid Sebaiknya jika ingin dibedah diberi judul saja sebab ini sangat lazim April 15 at 9:14pm · Like · 3
  • Lia Amalia Sulaksmi tulisan.ini sangat lembuutt sekali....bermain dengan imajinasi dan aku setuju Teratai Abadi....menulis ini dengan letupan jiwanya....mungkin tanpa sadar....keluar dan meletup...  April 15 at 9:14pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk Fron, santai saja fron ini forum yang serius, yang penting nilai belajar yang didapatkan, hehe..teh Lia Amalia Sulaksmi, monggo dikuliti lebih dalam teh hehe April 15 at 9:15pm · Like · 2
  • Yenni Afrita malam Fendi Kachonk,puisi Teratai Abadi bahasa majasnya dengan metafor sangat kental dan 'larik demi larik indah banget.. April 15 at 9:15pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk kak Yenni Afrita, teruslah kak, saya akan belajar juga, bagaimana puisi ini kuasa menghantarkan ke ruang-ruang yang sepi heheApril 15 at 9:17pm · Like · 1
  • Ezah Nor puisi yang indah namun sederhana dan mudah difahami. tentang kerinduan pada kampung yang ditinggalkan, meskipun rumah tinggalan telah usang, kasihsayangnya masih dirasai dijiwa.April 15 at 9:18pm · Edited · Like · 2
  • Moh. Ghufron Cholid Santai itu boleh fen, karena ini sarana pembelajaran bersama maka lebih elok jika dibuat judulnya duluApril 15 at 9:18pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk kan sudah saya jawab di atas fron, kalau pun tanpa judul akan menarik juga toh, sapa tahu memang ada kebuntuan dalam memberi judul, hehehe..jadi kita bisa sharing...April 15 at 9:20pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk Wah Kak Ezah Nor menemukan yang lain dari saya baca, keren kak Ezah...April 15 at 9:21pm · Like · 2
  • Ezah Nor hehe..kamu ni FendiApril 15 at 9:22pm · Like · 1
  • Fendi Kachonk ayo kak Ezah Nor heheh siapa tahu kita juga bisa belajar mengapresiasi puisi dengan santai dengan ala kita yang suka tertawa dan bercanda ini heheApril 15 at 9:25pm · Like · 2
  • Robi Akbar mas fendi aku nyimak yo. melu belajar hihi....April 15 at 9:25pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk mas Robi, jangan begitu donk, kita santai mari mas, kita juga butuh temuan dan pendapat mas, karena semuanya masih belajar heheApril 15 at 9:26pm · Like · 2
  • Ezah Nor .Katanya, ini kanvas seluruhseluruh resah jinggakudan diam.kehidupan adalah ibarat kanvas hidup, yang mewarna seluruh resah dalam jiwa penulis.April 15 at 9:27pm · Like · 5
  • Fendi Kachonk asyik kak Ezah Nor kembali membaca sajak dari tanda yuk lanjutkan kak Ezah, ternyata banyak arah yang bisa kita rekatkan untuk membaca sajak ini...April 15 at 9:28pm · Like · 3
  • Lia Amalia Sulaksmi entahlah puisi ini kesedihan yang meledak dalam jiwa....bahwa aku lirik pulang ke rumah dan.mendapati jiwanya terluka karena peristiwa-peristiwa dalam hidupnya yang mendera seperti gelombang, dan itu menyisakan kepedihan jika teringat membuatnya terisak akhirnya yang bisa dilakukan aku lirik adalah diam.April 15 at 9:31pm · Edited · Like · 5
  • Fendi Kachonk wowo, Teh Lia makin membuat kepiluan dengan mendalami makna dari puisi ini, serasa senyap dan hampa di dalam rumah itu ya teh, tetapi tetap saja semua kenangan seperti bayi yang terus dilahirkan oleh waktu, ci ci ci hehehe Teh Lia Amalia Sulaksmi dilanjutkan teh heheApril 15 at 9:34pm · Like · 4
  • Lia Amalia Sulaksmi jiahhh...mas Fendi Kachonk puisi ini memang senyap dan pilu...mas Robi Akbar......ayooo donkkkk...kasih ulasannya....hehe...April 15 at 9:37pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk hehe iyah teteh, eh Dita Ipulsini donk hehehe..sapa tahu bisa menambah ilmu pada kami, Yatim Ahmad, sapa tahu ada kesan lain kepada puisi ini.April 15 at 9:39pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk Umirah Ramata, cerpenis KJ kemana ya? sapa tahu ini bisa jadi bahan cerpen heheApril 15 at 9:40pm · Like · 2
  • Robi Akbar punten teh Lia Amalia Sulaksmi. teu tiasa ngulas puisi. hehe... iyeu rek belajar.April 15 at 9:40pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk Aduh Mas Robi Akbar tak ada polisinya mas, kalau salah hehe santai bae kata Umirah Ramata, heheApril 15 at 9:41pm · Like · 2
  • Yenni Afrita puisi ini emang sarat dengan kesedihan terutama pada bait pertama, dan juga penuh kenangan .....semuanya terlukis yang digambarkan dengan kata di kanvas.April 15 at 9:42pm · Like · 4
  • Agung Pranoto Mas Fendi sudah pandai mengapresisasi. SipApril 15 at 9:43pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk Kak Yenni, wah, siipp....iyah seperti kata kak Ezah Nor dalam komentarnya seperti kanvas kehidupan ini, aih Pak Agung Pranoto, mari pak kami masih belajar, di sela-sela tak bisa berpuisi menulis ini, meski itu tadi baru belajar, ditunggu pak jelajahnya.April 15 at 9:46pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk Ada Bang A Yatim Ahmad yang baru aku undang karena akun baru dan sudah lama di sini, Om Djazlam Zainal apa kabar?April 15 at 9:47pm · Like · 1
  • Dita Ipul aku hadir ,bang fendi. ada apa nih xixixi. Ak akan tetap meyimak dgn baik bang.April 15 at 9:47pm · Edited · Like · 2
  • Fendi Kachonk Dita Ipul belajar pada puisi Teratai Abadi, belajar ngulek-ngulek heheApril 15 at 9:48pm · Like · 3
  • Robi Akbar "aku pulangjalan-jalan terakhir menemui rumah kita yang bocor"yang jadi pertanyaan saya, siapakah atau apakah yang menemui rumah yang bocor itu. si akukah atau jalan-jalan itu. saya berharap si aku yang hendak menemui bukan jalan-jalan itu. tapi mengapa harus ada kata jalan-jalan terakhir itu. menurut saya ini pemborosan kalimat. mubadzir. seandainya di buat lebih padat mungkin akan lebih menuju sasaran.misal"aku pulangmenemui rumah kita yang bocor" tapi semua kembali ke penulisnya barangkali ada maksud tertentu yang ingin disampaikannya dengan jalan-jalan terakhir itu. salamApril 15 at 9:51pm · Edited · Like · 4
  • Fendi Kachonk wow, terima kasih mas Robi Akbar ada saran dan pembacaan kritis terhadap tulisan ini yang memungsikan pemadatan kata, semua berpulang pada Teratai Abadi, terima kasih mas,April 15 at 9:55pm · Like · 3
  • Ezah Nor aku teringat lagu sheila on 7 'aku pulang' tanpa rasa dendam dihati, biarpun sejarah sering melukakan. ..April 15 at 9:57pm · Like · 4
  • Fendi Kachonk Kak Ezah Nor betul sekali, aku juga suka lagu itu, dan bait terakhir dalam lagu itu sepertinya juga jadi saran hehe rebahkan lelahmu kata sheila heheApril 15 at 9:58pm · Like · 2
  • Lia Amalia Sulaksmi kak Ezah Nor....duhhh.jadi mengingat masa lalu....mama Asmira Suhadis...mama ke sini...mah...April 15 at 10:04pm · Like · 3
  • Dita Ipul puis ini indah dan sederhana, karena pola penulisnya bermain dgn jiwa. Begitu jelas kesedihan yg dirasakanya hingga tertulis kata di kanvas. Sayang sekali kenapa belum diberi judul,?bang fendi.April 15 at 10:05pm · Edited · Like · 4
  • Yenni Afrita Teratai Abadi... memakai kata jalan-jalan mungkin lebih mempertegas maksudnya kalau aku pulang,..... banyak hal yang ditemuinya dalam perjalanan kehidupannya dan .... jalan-jalan yang terakkhirnya itu menemui rumah kita yang bocor..... tapi kembali lagi pada penulisnya apakah emang begitu maksud dari bait tersebut.....April 15 at 10:05pm · Like · 4
  • Teratai Abadi Wow.. ini benar-benar kejutan Fendi Kachonk yang jelek..heheh padahal..entah ini puisi atau sekadar lepasan rasa spontaneous dariku. Terima kasih banyak..saya masih di jalanan..baru akan pulang, jadi g bisa komentar panjang2. InsyaAllah saya datang kembali nanti, memuaskan sedikit rasa ingin tahu .. heheh ..mau nyetir dahulu..April 15 at 10:05pm · Like · 5
  • Fendi Kachonk masa lalu apa teteh, nah lo hehehe....April 15 at 10:07pm · Like · 2
  • Dita Ipul iya bang, belajar ngulek-ngulek kata dlm puisi itu. Sayang sekali blm diberi judul.April 15 at 10:12pm · Like · 2
  • Agus Hariyanto Rasjid Boleh saya melontarkan kapak saya yang semau gue April 15 at 10:13pm · Like · 4
  • Moh. Ghufron Cholid Kalau membaca bait pembuka tentunya puisi ini melukiskan kembara ke tanah kelahiran yang penuh kenang, penuh pilu yang ngilu dalam kalbu. Ada retak harap yang didekap, ada bahagia yang terkoyak, kenyataan yang tak berpihakApril 15 at 10:16pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk boleh mass..hehe...jangan banter2 mas aguss hehe nanti kena tetangga sebelah heheApril 15 at 10:17pm · Like · 4
  • Robi Akbar boleh om Agus Rasjid. tapi tanya om Fendi Kachonk selaku tuan rumah. hihihi.... April 15 at 10:19pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk Kak Yenni Afrita, Kak Ezah Nor, adik Dita Ipul, dan kawan-kawan monggo dilanjukatkan terus, Teratai Abadi, Hati2 di jalan, hehe, Mas Moh. Ghufron Cholid di lanjutkan mas, Agus Hariyanto Rasjid sebagai forum belajar, silahkan tetapi diperkecil volumenya biar adaptif mas ku sayang hehe mas Robi Akbar aku sambil manjat atap sinyal rada ruet heheApril 15 at 10:20pm · Like · 4
  • Robi Akbar awas jatuh om. kikikik.... April 15 at 10:22pm · Like · 2
  • Yenni Afrita hehheh... manjat atap tapi awas jangan sampai lompat .... ..April 15 at 10:22pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk Mas Robi, kampungku sereeet sinyalnya, Kak Yenni tolong bantu jagain gawangnya ya..hehe biar kawan-kawan nyaman diskusinya heheApril 15 at 10:24pm · Like · 1
  • Lia Amalia Sulaksmi sudah biasa jatuh dari atap kayaknya.mas Robi Akbar.....wkwkkwjalan-jalan terakhir...seperti sebuah perpisahan pada sesuatu entah apa itu...sesuatu mungkin berupa mimpinya atau cita-citanya..mimpinya bisa diibaratkan rumah namun rumah itu atapnya bocor...mimpi indah dalam hidupnya...tiba-tiba tak menjadi indah lagi...April 15 at 10:26pm · Edited · Like · 3
  • Fendi Kachonk oke teteh, yang saya baca dari aku pulang, terus ke jalan-jalan ada kuasa kata yang dihisap dan sengaja disembunyikan oleh penulis, serupa sajak arab yang men-dhomirkan sesuatu, yang sebenarnya mungkin akan membuat pembaca semakin bertanya-tanya, bahwa rumah itu telah bocor dan aku lirik pulang mengikuti ruas jalan-jalan kenangan itu ehhehe, sehingga kembali teringat lagu, sepanjang jalan kenangan ..mungkin begitu mas Robi Akbar dan teteh Lia Amalia Sulaksmi hehe soal atap aku itu handal banget hehe jadi gak mungkin jatuh kalau masih di atas heheApril 15 at 10:31pm · Like · 3
  • Sigit Enstiwistle Bocor tentu sebelumnnya ada hujanApril 15 at 10:38pm · Like · 3
  • Yenni Afrita wow... makin malam makin seru nih......puisi ini juga mengingatkan kita Katanya, ini kanvas seluruhseluruh resah jinggakudan diam. ....April 15 at 10:38pm · Like · 2
  • Lia Amalia Sulaksmi hehehe....aihhh bener juga Sigit Enstiwistle....cerdas dehhhApril 15 at 10:39pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk nah ayo Bung Sigit, kalau ada hujan simbol itu juga perlu kita jelajahi heheApril 15 at 10:40pm · Like · 1
  • Okta Dalam Goresan Puisi ini cukup samar, saya merasakan ada sesuatu yang pedih ketika. "Aku pulang" jalanjalan terakhir, si ia menemukan lukaluka lama yang membangkitkan kenangan, dalam waktu yang membentang cukup lama. Mungkin 'ia' di sini tanpa sadar tergali lagi kenangan pada seseorang. Lanjut pada bait kedua. Ada penegasan. 'Aku sedang pulang' dapat diambil dari kata [sebenarnya] pasir putih menyusur nurani. memperkokoh akan penegasan si penulis.si aku ini memang sedang pulang, dan teringat akan sebuah kenangan silam akan seorang kekasih yang telah meng-akar. pada pandangan pertama hatinya yang ia tambatkan, yang ia impikan. Lalu pada bait ketiga, di sini ada gelojak akan kenangan itu, sering dan amat sering membuat ia menangis menahan isak, dan ia mencoba menyapu kenangan itu dengan selalu tersenyum. Walau getar kerinduan ini selalu hadir. Ada penegasan lagi pada bait akhir 'padamu yang jauh' Dan pada bait penutup. Adalah satu lompatan si ia di sini mencoba menghibur diri, dengan 'katanya' Di tenggah kerinduan menyeluruh getar, ada kelabilan yang dalam. Namun ia berharap lagi dibalik jingga ada asa di diamnya. Suatu sajak yang bagus, bercerita pulang.[pulang]. Di sini sipenulis memaknainya ialah sebuah kenangan dan kerinduan akan kekasihnya, walau kadang kala ia tidak dapat meredamnya dan memilih diam. Semoga saya salah, memasuki sajak yang bagus ini. Salam santun malam, buat sahabat semua.April 15 at 10:40pm · Edited · Like · 6
  • Robi Akbar secara keseluruhan saya tangkap apa yang ingin di sampaikan mba'e Teratai Abadi. tapi saya rasakan ada sandungan pada bait awal itu.coba deh. aku pulang apakah si aku atau seseorang yang sedang berkata hendak pulang atau sedang dalam perjalanan pulang. berkata aku pulang pada seseorang.lalujalan-jalan menemui rumah kita yang bocor.ada kesan bahwa jalan-jalan itulah yang menemui rumahnya bocor.April 15 at 10:41pm · Like · 4
  • Fendi Kachonk Mas Okta Dalam Goresan beghhh keren penjelahannya mas, aku suka dengan kedalamannya, masuk ke dalam puisi ini seperti kita memang di bawa ke lautan kisah, lautan kenang, lautan duka, oh diombang-ambingkan oleh kenangan, sehingga aku pulang katanya, aku ingin pulang...duh sahdunya ya mas puisi ini, mas Robi Akbar iyah mas robi, sangat punya leluasa memasuki kuutuhan teks ini, sehingga kita sama-sama belajar, misal ada yang patah mungkin masih bisa kita tautkan kembali...iya gak teh Lia Amalia Sulaksmi, kak Yenni Afrita dan kak Ezah Nor biar tidak tidur hehe aku colek mulu heheApril 15 at 10:46pm · Edited · Like · 5
  • Fendi Kachonk kang Helmi Juned rupanya menautkan jempolnya, mari kang, ditunggu ulasannya heheApril 15 at 10:48pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk Ciek Mita Sari, monggo bergabung ciek heheApril 15 at 10:49pm · Like · 2
  • Yenni Afrita ngak tidur Fendi Kachonk cuma makin assyk aja diskusi kita, cukup menambah wawasan..pun memancing kita untuk lebih memahami, jeli memaknai sebuah karya...mantaap deh..... nyimak buat sementara fendi...April 15 at 10:52pm · Like · 2
  • Sigit Enstiwistle Sebenarnya bukanlah hujan yang membuat rumah itu bocor tp seolah2 karena hujanlah ia bocorAda hal sebelumnya yang tersembunyi seperti yang dikatakan mas fendiApril 15 at 10:55pm · Like · 4
  • Okta Dalam Goresan mas fendi, tetapi judul sajak ini apa ya? saya agak gamang juga memasuki sajak yang indah ini, tanpa tifografi yang lengkap atau saya yang salah ya. maaf buat mba teratai abadi. April 15 at 10:55pm · Edited · Like · 4
  • Lia Amalia Sulaksmi idiihhh Sigit Enstiwistle....katanya ada hujan...tp mungkin juga yang seolah-olah itu adalah tanda...bahwa hujan tidak diartikan sebagai hujan tetapi mungkin air mata....atap bocor mungkin juga pertahanan diri yang "bocor"...dan kemungkinan penafsirannya bisa.lebih luas juga...April 15 at 10:59pm · Like · 4
  • Sigit Enstiwistle Waw sudah lebih luas lagi nihApril 15 at 11:03pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk nah Benar kata Bung Sigit, ada intervensi yang lainnya, sehingga itu bocor itu ada, wah keren kau kawan, jadi hujan adalah tanda juga, bisa jadi hujan itu adalah masalahnya, hujan dalam lambang yang terjadi dalam aku lirik hehe begitu mungkin teh Lia Amalia Sulaksmi, kak Yenni Afrita, mas Okta Dalam Goresan nanti Teratai Abadi yang akan jelaskan, apakah aku pulang itu judul atau memang belum menemukan judul dalam sajak ini...April 15 at 11:03pm · Like · 2
  • Okta Dalam Goresan betul sekali mba lia amelia sulakmi, kata bocor dan lainlainnya hanya permainan diski dan metafora saja, itu menurut saya. namun sayang itu tadi, sajak ini tidak menyertai judul.April 15 at 11:04pm · Like · 4
  • Agus Hariyanto Rasjid Ibarat kacang bait-bait puisi di atas telah di kuliti pemaknaanya oleh bung Fendi Kachonk, jadi saya harus mencari potensi lain yang tersaji. 1/ Puisi ini bermain dalam ruang waktu di bait pertama. 2/ Bait kedua, kenangan perjumpaan dan setelah itu kekosongan. 3/ Bait ketiga, bertema curhat tentang kerinduan. 4/ Bait keempat, tentang kehilangan dan adanya suatu citraan real yang nampak di situ. (Citraan yang penulis nampak mengudang getir) April 15 at 11:05pm · Like · 5
  • Fendi Kachonk wow mas Agus, sip itu yang saya inginkan mas, secara imajinasi telah saya cobakan, nah saya menyukai gaya mas agus yang makin memperkaya dalan menjelajahi puisi ini, mas robi dengan teks nya tadi inilah kekayaan kita yang kalau belajar, pasti banyak yang kita dapatkan hehehe yesss..makasih mas agus..April 15 at 11:08pm · Like · 3
  • Lia Amalia Sulaksmi mas Robi Akbar...secara struktur kalimat....benarkah begini?jalan-jalan terakhir menemui atap rumah yang bocor...tapi apakah saya tidak akan salah memakai pisau yah mas? jika dari struktur...jalan-jalan terakhir berupa subjek yang menemui rumah yang bocor.....jadi siapakah yang menemui atap yang bocor adalah jalan-jalan terakhir....kalau seperti itu...seandainya jalan-jalan terakhir adalah lambang sesuatu misalnya kenangan maka kenanganlah yang menemui atap yang bocoratau kemungkinan kedua subjeknya dilesapkan sehingga dia tidak kelihatan atau disembunyikan?entahlah hanya penyairnya yang tahuApril 15 at 11:10pm · Edited · Like · 5
  • Fendi Kachonk Teh Lia Amalia Sulaksmi memperkaya dengan pendekatan teks antar teks, sama dengan mas Robi Akbar maka diskusi ini makin seruu...tetapi memang kuasa puisi selalu menarik untuk kita bincangkan dengan kopi kita diskusi bersama puisi hehe...April 15 at 11:10pm · Like · 4
  • Okta Dalam Goresan wah, sudut yang bagus sobat agus hariyanto. langsung tepat pada jantungnya. April 15 at 11:11pm · Like · 4
  • Yenni Afrita yang pasti si penulisnya mampu membawa kita semua beragumen dengan sudut pandang kita dalam memahami sebuah puisi...April 15 at 11:12pm · Like · 5
  • Lia Amalia Sulaksmi mas Okta Dalam Goresan....benar sepertinya judul memang sangat penting untuk menafsirkan puisi iniApril 15 at 11:14pm · Like · 5
  • Agus Hariyanto Rasjid Sttt.. aku juga jago melukis loh.. April 15 at 11:14pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk mas agus hehhee ssttt aku juga jago main bola heheeApril 15 at 11:15pm · Like · 3
  • Okta Dalam Goresan ssst..juga. hahaha. iya mba lia. jadi sajak ini tidak menyediakan pintu masuk, ibarat rumah langsung kekamar. hihihi. colek mba lia. becanda.April 15 at 11:19pm · Like · 4
  • Fendi Kachonk saya mau mencolek Teratai Abadi saja hehe biar pintunya segera dipesankan ke tukan rumah, aku malah jago colek mas Okta Dalam Goresan heheApril 15 at 11:21pm · Like · 4
  • Robi Akbar hehehe.... suasana seperti ini yang saya suka. semua pegang peranan masing. mas Fendi Kachonk teh Lia Amalia Sulaksmi. kerjasama team yang baik dari kalian menciptakan suasana yang yang juga baik. saya seperti sedang bermain bola. ada yang mengatur strategi mengumpan dan memasukkan bola untuk mencetak gol. proses belajar yang hebat. salut.April 15 at 11:24pm · Like · 3
  • Lia Amalia Sulaksmi hahaha...masih ada gorden mas Okta Dalam Goresan....April 15 at 11:24pm · Like · 4
  • Okta Dalam Goresan ya..ya..mas fendi kachonk. colek juga si tukang pintunya. biar ada jendela buat mba teratai abadi. hehehe...colakcolek dech. sobat agus pasti mau ikut juga tuh, ssts..sobat robi iku juga ga ya?April 15 at 11:25pm · Edited · Like · 3
  • Fendi Kachonk Aih mas Robi bisa saja, kami mengalir saja mas, tanpa ketegangan, soal hujan susah membuat ketegangan hehe...jadi aku juga salut pada semua kawan-kawan, mas Robi Akbar, mas Okta Dalam Goresan, Teratai Abadi masih ngukur pintunya mas, biar semua orang bisa masuk ke dalam dan berenang dalam lautan puisinya heheApril 15 at 11:27pm · Like · 3
  • Lia Amalia Sulaksmi sssttt..hati-hati jangan colek bolanya yah...hehe...April 15 at 11:27pm · Like · 2
  • Yenni Afrita Lia Amalia Sulaksmi.....mungkin itu keinginan penulisnya mba Teratai Abadi bahwa menafsirkan sebuah puisi tanpa judul ,hanya lewat larik demi larik dan bait demi bait seharusnya dapat di pahami , tapi karena begitu apiknya dirangkai diksi dan metafor yang padat mampu membawa kita menfsirkannya berbeda, klalu ada judul sedikit memberikan gambaran kemana arah puisi ......menuntun kita...setidaknya ada gambarannya... hehhhe... ini cukup menguras.....April 15 at 11:29pm · Like · 4
  • Fendi Kachonk Kak Yenni Afrita, sepertinya begitu tetapi mungkin karena letupan perasaan itu tiba-tiba jadi penulis kebingungan mencari judul, saya sering begitu kesulitan memberi judul, nah kalau memang itu kesulitan, maka Teratai Abadi juga kita beri saran soal judul, kira2 apa ya kak Yenni dan Teh Lia Amalia Sulaksmi, atau mas Robi Akbar dan mas Okta Dalam Goresan?April 15 at 11:32pm · Like · 2
  • Sigit Enstiwistle Jangan2 penulis ini pulang sudah tidak menemukan pintu rumahnya karena dia hanya pilang dalam ingatannya..................Sssssssssttttttttttttt aq jago melihara ayam jagoApril 15 at 11:32pm · Like · 3
  • Lia Amalia Sulaksmi hehehe...betul mbak @ Yenni Afrita berbagai sudut pandang dipakai untuk.menafsirkan ini....April 15 at 11:32pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk Bung Sigit Enstiwistle hehehe aku malam ini akan minta maaf ke Teratai Abadi karena kunci rumahnya ada dalam tas ku heheheApril 15 at 11:34pm · Like · 1
  • Agus Hariyanto Rasjid Di rumah yang dikunjungi penulis, (di bait terakhir) ada sesuatu bisa diendus dan tersembunyi dalam kalimat : Katanya, dst...April 15 at 11:34pm · Like · 3
  • Robi Akbar hehehe... si teteh bisa wae... bukan itu teh. bukan masalah perlambangannya. sederhana, saya hanya merasa ada jembatan yang putus antara "aku" pulang dan "jalan-jalan" yang #menemui rumah kita yang bocor itu.April 15 at 11:34pm · Like · 4
  • Okta Dalam Goresan mba yenni afrita, ehem betul sekali mba, akan tetapi sebuah puisi yang utuh itu, memenuhi kontruksi judul, isi, dan titimangsa. baru akan amat indah kita menikmatinya. . ini hanya pendapat saya saja. salam colek ya mba.April 15 at 11:35pm · Like · 3
  • Fendi Kachonk Nah mas Agus Hariyanto Rasjid menemukan kunci lagi, yaitu "katanya" jadi kalau katanya berarti ada orang lain yang mengatakannya, lalu hiks...rupanya ada perpisahan, langit malam ini jadi menangis mas Okta Dalam Goresan mas Robi Akbar mana tisuuu, tisuuuu heheApril 15 at 11:36pm · Like · 2
  • Lia Amalia Sulaksmi namanya.juga.kehujanan....pastilah ingin langsung berteduh tanpa langsung buka pintu Sigit Enstiwistle...April 15 at 11:36pm · Like · 3
  • Robi Akbar kalau masalah judul saya no coment. karena buat saya isi lebih penting.April 15 at 11:38pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk sepertinya pola kita sama mas Robi Akbar tetapi mas Okta Dalam Goresan juga memberikan kerangka keutuhan puisi secara teoritis, ini kita kaya banget dengan pemahaman...April 15 at 11:40pm · Edited · Like · 2
  • Sigit Enstiwistle Lalu knp harus buru buru ada pintu Sekalipu sudah didepan pintu kuncinya ada mas fendi kok wkkkkkkkkkkkApril 15 at 11:43pm · Like · 2
  • Robi Akbar hihihi..... jadi sekarang pertanyaannya sepenting apakah sebuah judul puisi?April 15 at 11:43pm · Like · 2
  • Robi Akbar Okta Dalam Goresan bagaimana menurutmuApril 15 at 11:44pm · Like · 2
  • Okta Dalam Goresan ya, jika sebuah puisi di nikmati khalayak. seharusnya memenuhi syarat secara teori, karna kelengkapan puisi itu sendiri sudah baku, ada judul, isi, dan titimangsa.Dan masalah memberi judul, bukan wewenang saya, semuanya kembali kepada pemuisi itu sendiri.April 15 at 11:46pm · Edited · Like · 4
  • Fendi Kachonk Mas Sigit Enstiwistle hihi iya betul sekali Teratai Abadi masih mencari kuncinya, karena secara etika kalau misal mau masuk ke rumah lewat pintu, maka saya akan coba imajinasikan mas Robi Akbar ketika teratai kehilangan kunci, dia bisa mencari akal masuk dari jendela, memang agak sulit mungkin sehingga kata mas Okta Dalam Goresan pintu tetap menjadi penting, akan tetapi soal pada inti kamar itu, ya sama-sama sampai juga hehe benar kata kak Yenni Afrita menguras keringat dulu, tetapi yang menguras keringat itu juga kadang dianggap cerdas heheApril 15 at 11:50pm · Edited · Like · 4
  • Robi Akbar mengapa harus ada syarat dalam puisi, mengapa harus ada ketentuan? bukankah puisi itu salah satu kebebasan berpikir dan tutur dalam tulisan jika ada syarat dan ketentuan puisi sebagai sesuatu yang membebaskan kita dalam berpikir dan bertutur dalam tulisan jadi mentah dong.April 15 at 11:51pm · Like · 3
  • Sigit Enstiwistle Teh lia tuh ada duplikatnya mas fendiApril 15 at 11:54pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk semoga saya salah, kemarin saya waktu di malaysia bertemu dengan bang Acep Zam Zam Noor, lalu memberikan buku kumpulan puisinya, setelah saya sisir satu persatu dari tulisan beliau ada yang (semoga saya salah) tak berjudul juga, maka kita pandang inii sebangai kekayaan dan kemerdekaan dalam berekpresi hehe..mungkin begitu ya mas Okta Dalam Goresan dan mas Robi Akbar?April 15 at 11:55pm · Like · 4
  • Robi Akbar dan masalah pemahaman khalayak atau penafsiran. ketika puisi itu di lepas maka kebebasan jadi milik si pembaca.April 15 at 11:58pm · Like · 5
  • Okta Dalam Goresan robi akbar, ibarat membangun sebuah rumah, jika tanpa atap dan pintu..tentu belum seutuhnya disebut sebuah rumah? lalu jika rumah telah ada atap dan pintunya, maka rumah itu layak dihuni, akan tetapi akan timbul lagi masalah yaitu perabotnya mana, ranjangnya mana dan dapur serta WC juga perlu dong, begitu lah sebuah puisi yang memenuhi sebuah kritria, sehingga puisi itu bisa dinikmati sepanjang zaman.April 15 at 11:59pm · Edited · Like · 5
  • Lia Amalia Sulaksmi wah wah semakin hangat neh perbincangan, sayang sekali besok mesti ngajar, pamit dulu ya kawan-kawan, semua kereeennYesterday at 12:03am · Like · 2
  • Robi Akbar Okta Dalam Goresan. tetapi puisi bukanlah rumah, atau sekali pun puisi itu ibarat rumah bagaimana dengan orang orang pedalaman yang tidak memiliki rumah seperti yang ada dalam benakmu apakah rumahrumah mereka tak bisa disebut rumah?Yesterday at 12:12am · Edited · Like · 4
  • Robi Akbar ah, teh lia ga berendem. hehehe...Yesterday at 12:05am · Like · 2
  • Robi Akbar permios.... ada orang di rumah?Yesterday at 12:11am · Like · 2
  • Okta Dalam Goresan mas fendi, kebebasan mengeksplor tentu amat luas dalam menciptakan sebuah karya. apa lagi puisi. dengan tanpa ada 'judul' yang mas katakan itu, sepenuhnya memang kemerdekaan si kreator. akan tetapi kretor akan selalu menyiapkan jawaban jika si penikmat mempertanyakan alasannya mengapa tidak menyertakan judul, dan secara tak langsung menjawab pertanyaan mas robi, yang mengatakan jika puisi telah di nikmati khalayak sepenuhnya milik pembaca, mau dibawa kemana imajinya.Yesterday at 12:11am · Like · 3
  • Fendi Kachonk hehehe mas okta dan mas robi, hehe sepertinya kita kembali pada semua kebenaran yang kita yakini, sehingga mungkin bisa ditarik ke samping dulu, kalau puisi itu selalu menjadi unik dan tafsir itu sendiri pulang pada diri masing-masing, sama ketika satu cerita dalam buku khahlil gibran dulu pernah saya baca, ketika raja memanggil semua punggawa kerajaan untuk membuat undang-undang, dan di tengah pembahasan belum menemukan satupun kesepakatan soal undang-undang di kerajaan itu, sedang punggawa dari seluruh sudut kerajaan telah membawa undang-undang kulturnya masing-masing, maka yang ada adalah tak ada keputusan soal undang-undang dan pulanglah para punggawa tersebut dengan melaksanakan undang-undangnya sendiri ke wilayah masing-masing, heheYesterday at 12:11am · Like · 3
  • Okta Dalam Goresan robi, hahaha. itukan dalam bahasa kita yang telah ada EYDnya...kalau orang pedalaman mengenal bahasa ibunya, hanya beda sebutan saja mas robi, kayak rumah adat di seluruh nusantara, namun makna dan kegunaannya akan sama.Yesterday at 12:14am · Like · 3
  • Agung Pranoto pemaknaan sebuah puisi jika ada perbedaan antara satu dengan yang lain sah-sah saja. Puisi itu multitafsir. Itulah uniknya puisi itu. Kita tidak perlu mendebat makna yang disampaikan apresiator terhadap karya puisi itu, yg penting adalah ketika apresiator memberikan makna x atas puisi itu dia bisa memberikan argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkanYesterday at 12:16am · Like · 3
  • Fendi Kachonk nah mas Robi dan mas okta, ini ada pak agung kita bisa dengan seksama menimba ilmu pada beliau...Yesterday at 12:17am · Edited · Like · 2
  • Agung Pranoto jika anda seorang guru bahasa sastra makanya sangat tidak dibenarkan bila membuat soal yg menyangkut puisi lalu pilihan jawabannya menggunakan sistem pilihan gandaYesterday at 12:18am · Like · 3
  • Agung Pranoto itu artinya bahwa puisi itu multi tafsir. Wajar bila ada 100 orang menafsirkan makna 1 puisi akan menghasilan 100 penafsiran. Jika hal ini ditanyakan kepada sastrawan, kritikus, pengkaji puisi kelas dunia pun pasti apa yg saya tulisan ini tidak melesetYesterday at 12:19am · Like · 5
  • Robi Akbar tapi yang perlu di garis bawahi. ketika khalayak mempertanyakan sesungguhnya biarlah ia bebas mencari jawabannya sendiri. sebab si penulis sudah tak ada hak untuk menjawab atau memberikan pembelaan terhadap apa yang sudah dia tuliskan. bayangkan jika khalayak yang membacanya satu sampai sepuluh orang mungkin ia bisa memberikan jawabannya. bagaimana jika seratus jika seribu jika sejuta. sampai kapan selesainya hanya untuk satu pertanyaan. begitu seterusnya. dan itu sama sekali tak menjawab apa yang saya tanyakan baik langsung ataupun tak langsung.Yesterday at 12:20am · Like · 4
  • Agung Pranoto Betul Robi Akbar, memang harus begituYesterday at 12:22am · Like · 3
  • Yenni Afrita waduuuh.... argumennya makin tambah seru nih.... Okta Dalam Goresan mengibaratkan puisi sebuah rumah. .. agar memberikan ciri dari karya-karya yanglain.....nah, bagaimana dengan orang pedalaman yg nggak punya rumah...?? sebenarnya kl menurut saya kl emang kita pakai ibaratnya rumah... toh pedalaman dia juga punya rumah, tp rumah mereka ya,, seperti itu adanya, walaupun degan kekurangan dan ketidak lengkapan itu mereka tetatp menyebutnya rumah... nah,, mengenai masalah pemahaman sebuah karya , itu emang jadi milik sipembaca... makanya seorang kritikus yg baik dia akan mecoba menyelami , memaknai sebuah puisi itu dengan ruang lingkup yg luas tidak terfokus pada makna muatan tp juga berusaha masuk mencari makna niatan yg ada dalam hati penyair ketika puisi itu ditulisnya.....ini kata-kata yang saya petik dari bang DasrilYesterday at 12:22am · Like · 3
  • Yenni Afrita Fendi Kachonk kemana nih..... udah ngorok ya..???? ok .. permisi juga ya... ntar besok kesiangan..... hehhheh... laanjut.. diskusi yg emang nambah wawasan......Yesterday at 12:26am · Like · 2
  • Fendi Kachonk wow, semakin asyik saja tambah malam, tambah seru...kak Yenni Afrita juga belum tidur, dan mas Robi Akbar masih berkelana terus, tambah pak Agung Pranoto telah sudi berbagi dengan kita, koridor kita belajar bersama ini akan menumbuhkan keberagaman sudu...See MoreYesterday at 12:26am · Like · 3
  • Robi Akbar Okta Dalam Goresan yang tertawa dengan hahaha... EYD. rumah dalam bahasa indonesia dengan omah dalam bahasa jawa samasama berarti RUMAH atau tempat untuk di tinggali. coba kamu baca lagi pertanyaannya baikbaik.Yesterday at 12:27am · Like · 2
  • Yenni Afrita keberagaman itu indah Fendi Kachonk... malam... ..Yesterday at 12:30am · Like · 2
  • Robi Akbar sip mas Fendi KachonkYesterday at 12:31am · Like · 2
  • Fendi Kachonk kak Yenni hehe keindahan itu terusik kak, karena rokokku habis heheYesterday at 12:31am · Like · 2
  • Robi Akbar satu lagi Okta Dalam Goresan yang saya tanyakan kepadamu samasekali tak ada hubungannya dengan EYD.Yesterday at 12:33am · Like · 2
  • Fendi Kachonk kawan-kawan semua, postingan dan diskusi ini belum kita tutup ya? nanti kita lanjut, saling mengumpan gagasan ke depan, tetapi tak ada salahnya kita break sejenak, biar besok kita bisa bertemu kembali, lagian si Teratai Abadi belum datang bawa ubi bakarnya hehe..mas Robi Akbar, Kak Yenni Afrita selamat malam kita sambung dan mengalir terusssss...Yesterday at 12:33am · Edited · Like · 3
  • Robi Akbar yah. curang ah mas Fendi Kachonk rokok habis sudahan.... hehehe... salam jabat erat kawan-kawan semua.Yesterday at 12:35am · Like · 2
  • Fendi Kachonk hehehe dingin mas, heheh istrihat dulu, kita lanjutkan besokk hehe...kawan-kawan semua kerennn....Yesterday at 12:36am · Like · 2
  • Okta Dalam Goresan robi, anda salah pengertian, maaf jika saya salah. maksudnya tentang EYD, adalah baku...saya mencontohkan rumah tadi memang harus baku, kayak EYD. maaf sekali lagi. semua tak lepas dari ketololan saya saja. salam rehat. terimakasih untuk bincang malam ini. para sahabat semua, tanpa merendahkan siapapun.Yesterday at 12:39am · Like · 2
  • Teratai Abadi Assalamualaikum wbt.Pertamanya mohon maaf keterlewatanku. Aq kira pulang tadi mahu on lappy, eh lappynya abis batery..kemudian..tahunya pula..wayer charger lappyku 'di makan' sama kucingku..huhu maka lengkaplah kerosakan gajetku.Yesterday at 12:39am · Like
  • Teratai Abadi Keduanya..heheh beriku sedikit masa ya..menjawab seadanya, setiap pertanyaan teman2..ehemm..kerna..iyaa..menggunakan telfon, agak menyukarkan dikit..Yesterday at 12:40am · Like
  • Robi Akbar Okta Dalam Goresan santai. ndak ada yang lebih pintar atau tolol di sini kita semua sama. salam jabat erat sekali lagi untuk semua. salamYesterday at 12:44am · Like · 1
  • Teratai Abadi Ketiganya, sebesar-besar cinta saya kepada kalian yang sudi 'beragument' dengan catatan kerdil saya itu..aduh! Manis sekali. Tentunya dengan keberanian Fendi Kachonk yang jelek tapi kusayangi ini, 'mencuri' dari wallku dan menghidangkan pada teman teman di sini hingga membawa kepada perbincangan hangat..hehehYesterday at 12:45am · Like · 1
  • Teratai Abadi Kembali kepada persoalan..saya cuba jawab seadanya ya, dengan kekosongan pengetahuan saya tentang sastera/puisi ini kerana saya adalah seorang businesses woman, literature ini sangat asing bagi saya..tapi saya mencuba. Mohon tunjuk ajar jika silap terjadi. Tentang tajuk, kenapa catatan itu tidak bertajuk. Saya tidak beranggapan saya menulis puisi. Saya terbiasa membuat catatan seperti itu di wall saya. Saya tidak berfikir tentang tajuk, tentang tatacara utuh menulis puisi kerana begitulah cara saya melepaskan sesuatu yang terpendam. Dan saya tidak menyangka catatan seperti itu bisa menarik minat tuan presiden KJ untuk membawanya ke sini...hehehheJadi, saya memohon maaf atas kelonggaran cara menulis catatan itu, tidak menyediakan pintu masuk kerana saya memang selalu menutup diri saya daripada difahami, berkongsi rahsia atau apa saja hal dunia dalaman saya. Saya cuma menulis, santai dan puas tanpa peduli untuk difahami...hehehe..Yesterday at 12:56am · Edited · Like · 1
  • Teratai Abadi Seterusnya, untuk lirikAku pulangJalan-jalan terakhir menemuiRumah kita yang bocorkenapa saya memilih jalan-jalan terakhir dan siapa yang menemui rumaj bocor itu? Hehhehe.. Jalan-jalan terakhir, adalah persimpangan-persimpangan yang banyak sekali..pilihan pilihan yang ada dalam hidup, walaupun jalan itu mungkin merupakan stepping back kepada jalan hadapan. Hidup ni kesukarannya, bukan sewaktu kita melaju ke masa hadapan..juga sangat sukar bila kita memilih untuk kembali ke diri yang asal. Cuba kalau disambung saja"Aku pulang, menemui jalan jalan terakhir rumah kita yang bocor " pasti temui jawabannyakan? Siapa yang temui rumah bocor itu. Sengaja dipenggal seperti itu, kerana saya mahu kesamarannya, fikiran seperti yang kalian bahaskan.. saya tidak mahu terlalu jelas haitt..hhheYesterday at 1:01am · Edited · Like · 1
  • Teratai Abadi Tetapi saya sangat menikmati, esei yang 'woww' hampir saya tidak yakin kalau itu tentang puisku, hehe Fendi Kachonk, akuuu bencii kamuuu... (baca: sayang..sayang..sayangg!).Lia Amalia Sulaksmi, selalu aq merasakan kasih sayang dalam tiap pembelaanmu..huhu datang lagi ke rumahku Yaaa.Saudari Yenni Afrita yang tiba-tiba menyentuh hatiku, seolah kita teman entah kelahiran mana hehegee.. canda mba, tapi sangat senang caramu menjiwai catataku. Mekasih hangatku.Saudara Robi Akbar dan saudara Okta Dalam Goresan yang begitu kritis, duh..banyak kubelajar dari kalian..mekasih jutaan kali. Maaf juga, aq harus pelan2 n berulangkali baca komentar kalian, heheh soalnya, ada sedikit perbedaan bahasa yang agak sulit kufahami maksudnya. namun tidak menjadi jurang buat hati mendekati. Mekasih saudara2 ku. Saudara Sigit Enstiwistle, salam kenal..mekasih sudi menyinggah sini, malu aja..heheh catatanku masih bayi. Pak Agung Pranoto, mekasih, begitu tenang dan wibawa mencelah..mohon tunjuk ajarnya lagi pak.Saudara Agus Hariyanto Rasjid, mekasih saudaraku yang baik, sangat bermakna apresiasimu itu, aku belajar.Kak Ezah Nor, amboi..terer ni..hehe tq tq tq. Sahabat Dita Ipul, yuk belajar2 sama2..Yesterday at 1:23am · Like · 2
  • Teratai Abadi Moh. Cholid, terima kasih ya..kalau kuletak judul, kamu juga bisa berapresiasi.. Yesterday at 1:25am · Like · 1
  • Teratai Abadi Dan kepada semua teman yang sudi klik like..berapresiasi dan membimbing, terima kasih persaudaraan dari Kuala Lumpur. Maaf jika ada kesalah fahaman bahasa, saya belajar memahami dengan lebih dalam apa yang semua sampaikanYesterday at 1:27am · Like · 2
  • Teratai Abadi Fendi Kachonk, kamu selalu tahu cara buatku tersenyum ( dan nangis!). Hehe dan Lia Amalia Sulaksmi, kamu tahu benar aq menulis di luar kesedaranku..kenapa kamu begitu hebat?? HuhuhuYesterday at 1:34am · Edited · Like · 1
  • Agung Pranoto Teratai Abadi: Puisi yang kau ciptakan memang bagus. Saya suka itu. Puisimu sungguh sublim dan kontemplatif.Yesterday at 1:41am · Like · 3
  • Teratai Abadi Pak Agung Pranoto, sesungguhnya saya merasa sangat kecil di tengah kalian. Mekasih bapak yang baik.Yesterday at 1:43am · Like
  • Agung Pranoto kita merasa sama, tidak ada yang kecil-besar, pandai-bodoh, tetapi kita sama-sama tetap harus belajar, belajar apa saja yang bermanfaat dalam kehidupan kita. Tanpa hal itu, hidup kita menjadi kerdilYesterday at 1:46am · Like · 3
  • Agung Pranoto Saya juga sedang mengamati puisi-puisi Fendi Kachonk, dengan harapan agar dia belajar terus dan menghasilkan puisi-puisi yang bagusYesterday at 1:50am · Like · 3
  • Teratai Abadi Amin, bahagia sekali mengenal orang yang merunduk kayak padi, pak Agung Pranoto. Itulah, Fendi Kachonk itu harus diamati, melaju dia meninggalkan teman2..moga bapak sudi juga menunjuk ajar saya.Yesterday at 1:52am · Like · 2
  • Agung Pranoto baik, insya allah saya juga akan mengamati karya-karya anda. Bila perlu sekali tempo kita membuat antologi puisi bertiga: Teratai Abadi, saya, dan Fendi KachonkYesterday at 1:54am · Like · 4
  • Muhammad J waduh. bang fendi bang fendi...Yesterday at 2:01am · Like · 3
  • Teratai Abadi Amin, bahagia sekali saya yang kecil ini pak Agung Pranoto. Moga ada chemistrynya.Yesterday at 2:04am · Like · 1
  • Agung Pranoto Pilihkan 10 puisi yang menurut anda baik untuk kita bukukan. Fendi sekarang sudah tidur, besok kita beritahu. Kumpulan puisi itu untuk kata pengantar akan saya mintakan kepada salah satu pengamat/kritikus sastra dari Indonesia. Apakah anda setuju?Yesterday at 2:06am · Like · 4
  • Agung Pranoto Kalau puisi-puisinya sudah siap kirimkan ke email saya beserta foto dan curriculum vitae anda ke ag_pranoto@yahoo.comYesterday at 2:08am · Like · 3
  • AJis Sapoetra pemikiran pembaca begitu luas,gambaran dan arti pun bisa berbeda ,tak apalah .tulisan adalah kebebasan . .mungkin bung beranggap seperti itu ,namun nampaknya ada seratus orang yang tak peduli dg tulisan di atas yang mengatakan bahasa runyam . . .namun berbeda dg ku . . .bahasa menjadi ciri tersendiri . .dan aku hanya bisa bilang . .aku pun merasakan hal yang sama seperti apa yang di katakan tuanYesterday at 2:10am · Like · 2
  • Agung Pranoto Ajis: sip itulah kemerdekaan kreatifYesterday at 2:13am · Like · 3
  • Teratai Abadi Pak Agung Pranoto, insyaAllah, saya akan bincangkan sama Fendi Kachonk nanti. Mekasih banyak pak..kesudiannya..haih.Saya tidak begitu memahami maksud saudara AJis Sapoetra. Jadi saya mampu senyum saja dahuluYesterday at 2:18am · Like · 2
  • Andhyka Nugraha :-secara pembaca dan penikmat puisi, saya menikmati batin puisi diafan buah karya Teratai Abadi di atas. secara halus Khad menggiring pembaca masuk dalam dimensi imajinernya dalam gaya bahasa yang mengarah pada struktur "elegi" yang menggambarkan perasaan duka (aku lirik). halus, sangat-sangat halus. Jom ngopi Khad...Yesterday at 2:19am · Like · 2
  • Teratai Abadi Naa.. baru datang pacar kopiku yang belum jadi..hehehe.. telat D. Nanti aq g bs tidur...udah siap2 baca puisi di SKL nanti?Yesterday at 2:20am · Like · 1
  • Andhyka Nugraha :-Pak Agung Pranoto, seru juga tuch antalogi puisi. Khad Teratai Abadi) memang srikandi puisi yang patut ikut berkontribusi, he..he..Yesterday at 2:21am · Like · 2
  • Agung Pranoto Andhyka: terima kasih suportnyaYesterday at 2:22am · Like · 2
  • Andhyka Nugraha :-ya, begitulah. saya khan suka baca2 dulu kemudian jadi penutup kemudian ya jelas siaplah Khad, saya pastikan dalam kondisi sehat lahir batin nanti he..he.....Mari Teratai Abadi dan pak Agung Pranoto, salam pena
  • Yesterday at 2:23am · Edited · Like · 2
  • Teratai Abadi Hhhaah ahh Andhyka Nugraha, selalu gitu. Padahal aq baru2 belajar menulis, bukan siapa2. Tapi undangan pak Agung Pranoto sangat membesarkan jiwaku. InsyaAllah moga ada jodoh kita semua dalam satu rumah.Yesterday at 2:42am · Like · 2
  • Andhyka Nugraha :-tetap merunduk seperti padi Khad biar waktu mendewasakan kita, mematangkan pena kita, jiwa kita, dan spirit kita dalam berkarya. Jom ngopi Teratai Abadi Yesterday at 3:02am · Like · 1
  • Helmi Juned sebenarnya aku sedang pulang, belum pulang ternyata, jadi apa yang sudah didapat dalam perjalanan pulang kenapa hanya diam..jadi apa arti sebuah kepulangan ......itu yang dapat saya tangkap dari puisi diatas, salam santun dan selamat pagi...Yesterday at 8:10am · Like · 1
  • Agus Hariyanto Rasjid Oh.. cinta deritanya tiada akhir ( Pat kai sahabat SunGoKong )Yesterday at 8:39am · Like · 1
  • Fendi Kachonk selamat pagi teman-teman, para keluarga, pantesan saya tadi malam gelisah hehe...semua komentar begitu akrab dan dekat, semestinya beginilah cinta begitu hangat ya mas Agus Hariyanto Rasjid, Teratai Abadi, Mas Helmi Juned, Mas Andhyka Nugraha, mas AJis Sapoetra dan pak Agung Pranoto, aku sayang semuanya...eheheYesterday at 9:28am · Like · 3
  • Fendi Kachonk eh ada yayangku mas Muhammad J di sini hehe....hey apa kabar sayang? Pak Driya Widiana M S terima kasih atas Likenya, dan Teratai Abadi, sejelek-jeleknya aku ini kan mesti jaga kamu dari cakaran kucing2mu hehe...kunci rumahmu ada di aku, maaf itulah ganjaran bagi orang yang tak menyediakan rokok bagiku hehehe.....Mas Sazalee Sulaiman mari mas, ikut nimbrung di sini heheYesterday at 9:40am · Like · 3
  • Sazalee Sulaiman Silakan duluin Fendi Kachonk abg ada tugas yang harus digalas dahulu...insya-Allah bila senang abg turut serta.Yesterday at 9:48am · Like · 2
  • AJis Sapoetra @teratar ,aku pun hanya bisa tersenyum saat engkau tak mengerti maksudku padahal sudah ada yang mengerti . . . .Yesterday at 11:04am · Like · 2
  • Sazalee Sulaiman ~KULAPISKAN KATA KARYAAku sedang bertugasdi kantor mejaku berdebuseusai aku mengelamunnamaku dipanggiluntuk berbicara karyatentang kata-kata terlempar resahbisikan puitis seorang karyawan wanita.Lantas tugasku tidak mampu tergalasdi jemala bahumemikirkan apa maksud bicarakuselami dan kuhirup bagai mengopiternyata ... ,karya ini mempunyai sentuhan suarasuara seorang perempuan'kenangan sering merodakan isakmeluruh hingga basah jemari'tika cuba kusapugementar tapak-tapak rinduanlebarkan senyumpadamu yang jauh'sinonim dengan tangisan di dalam senyumantabah dalam kehidupanmeskipun jauh namun dekat di haticintanya abadimungkin kepada seorang lelakiataupun Yang Hakiki.Bicaranya resah'Katanya, ini kanvas seluruhseluruh resah jinggakudan diam'dalam diam tinta rindunya tetap mengalirdi sebalik hijap kata-kataadalah lebih suci berdiam diri.Teratai tetap abaditeratai tetap menjadi misteriteratai tetap teratai.SAZALEE SULAIMANNilai, NS16/04/201411.25.Yesterday at 11:25am · Edited · Like · 2
  • Lia Amalia Sulaksmi Teratai Abadi, hehe setuju, Mbah Fendi Kachonk ini jeli melihat puisimu, dasar orang jelek selalu tahu mana puisi manis dan tidak...hehe..Yesterday at 12:05pm · Like · 2
  • Fendi Kachonk Teh Lia mah bisa ajah,.....hehe Mas Sazalee Sulaiman puisinya nyentrik, Teratai Abadi tidak hanya puisinya mampu dijadikan bahan diskusi tetapi juga berbalas karya dengan mas zalee..kerennn semuanyaYesterday at 2:39pm · Like · 1
  • Sazalee Sulaiman hihiYesterday at 3:11pm · Like · 1