Jumat, 01 April 2016

MERAYAKAN HAL BESAR DENGAN CARA SEDERHANA


Workshop Sehari Menulis Puisi FBS dan Kampoeng Jerami

Pertemuan rutin sekaligus belajar menulis bersama, 01 April 2016 di Asta Pujuk Pongkeng. Kebersamaan yang saling memberi energi. Curhat proses. Mengumpulkan tulisan dan membaca puisi. Yang perempuan terlibat aktif. Pertemuan kali ini memang semacam jeda dari workshop yang kami kelola secara serius. Masih bertempat di Pujuk Pongkeng kami mengevaluasi semua hasil dari materi di workshop tanggal 19 Maret 2016 di Lembaga Nurul Jadid.
Hal yangmenggembirakan adalah semakin saya lihat semangat yang menyala-nyala dari semua yang hadir, senyum, tertawa bahkan kami terkadang membuat lelucon baru demi satu kehangatan dan saling mendorong untuk tak malu mengawali menulis dan menulis. Ini proses kami yang masih belum pada tahapan mengenai bagus dan tidaknya karya, tapi kami memulai dengan kegembiraan untuk belajar dan belajar, hal itu terlihat juga dengan sudah mulai harmonis dan mulai saling mengenal ritmenya. Forum Belajar Sastra Dan Kampoeng Jerami semoga hal yang sederhana ini berkembang jadi jiwa dan roh bagi kami semua.
Begitulah evaluasi dari hasil pertemuan tanggal 19 Maret 2016 sudah melaksanakan workshop bersamadengan pemateri dari Bengkel Puisi An-Nuqoyah Guluk-guluk Yaitu Gus Miming (K. Muhammad Zamiel El-Muttaqien) begitu sapaan akrab beliau. Hal-hal yang menarik dalam workshop sehari menulis puisi itu saya mencatatnya sebagai berikut. Peserta yang suka rela membangun kesetiaan dalam bentuk proses. Membawa perangkat berupa alat tulis dan makan siang yang dibawa dari rumah masing-masing adalah hal yang coba kami tradisikan supaya terlepas dari ketergantungan kepada lembaga manapun.
Gus Miming dari Bengkel Puisi Guluk-guluk
Kesadaran inilah yang mungkin akan jadi kekuatan kami ke depan dengan tidak terpaku pada semata-mata kegagahan, karena seyogyanya kami semua hanya ingin belajar bersama, sama-sama bebas berbicara, sama-sama dapat pengetehuan secara rata. Forum Belajar Sastra yang awalnya lahir atas inisiatif Kampoeng Jerami dengan berapa sanggar di daerah Sumenep yang sama-sama gelisah untuk mengawali, dan belajar serius dan fokus pada sastra, baik itu puisi dan cerpen dll adalah tempat belajar bersama yang tak mengatasnamakan lembaga tapi perindividu yang mau mengikuti proses dan dinamikanya.
Pertemuan Rutin, 01042016
Dan tanggal 15 April 2016 kita akan mengadakan workshop kedua kembali dan berbagi pengalaman dalam menulis bersama ustad Malkan Junaidi. Semoga semakin banyak kawan yang datang untuk membantu proses kami dalam belajar ke depan.

Kamis, 10 Desember 2015

SATU TAHUN TITIK TEMU



Awalnya adalah impian, lalu kemudian bergulir dalam kebersamaan. Itulah gambaran TITIK TEMU, sebuah antologi puisi yang diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami (KKJ) dalam rangka hari Hak Asasi Manusia (HAM) setahun lalu, 10 Desember 2014. Dalam setahun, buku yang dilibati oleh 60 penulis dari berbagai kalangan ini sudah berjalan ke banyak kota.

Diluncurkan di dunia maya persis pada perayaan HAM lalu bergulir secara nyata di berbagai tempat. Pertama di RRI Sumenep pada 4 Januari 2016, lalu berjalan ke Jakarta di Sastra Reboan 25 Pebruari 2016. Kesempatan berikutnya adalah Bandung bersama Majelis Sastra Bandung 22 Maret 2016, Bengkulu bersama Kedai Proses 17 April 2016, di Tangerang bersama 30 Mei 2016, dan di Malang bersama Komunitas Pelangi Sastra Malang 13 Juni 2016.

Selain itu, Titik Temu juga dibawa dalam beberapa diskusi, tulisan di beberapa media dan sebagainya. Seluruh perjalanan itu tak lepas dari dukungan banyak orang yang terlibat dalam sastra maupun dalam pergerakan HAM. Apakah setelah satu tahun diluncurkan buku puisi ini sudah memberikan manfaatnya? Yang bisa menjawab adalah orang-orang yang menulis, membaca dan melibatinya. 

Tapi tak bisa dipungkiri bahwa sebuah buku adalah alat yang nyaris abadi untuk menyuarakan pesan-pesan kemanusiaan.  Dan buku yang sudah dibawa dalam perbincangan-perbincangan akan lebih menyebarkan wawasan itu secara manusiawi.

Semesta sudah memberikan dukungan yang besar ini, terimakasih banyak pada para penulis, pembaca, komunitas yang terlibat, jaringan-jaringan yang sudah mendukung Titik Temu dan juga seluruh energi dari berbagai pihak. Ini akan jadi awal dan modal bagi perjalanan yang berikutnya bagi gerakan HAM dan juga secara khusus bagi Komunitas Kampoeng Jerami.

Minggu, 25 Oktober 2015

Menarik Kisah dari Tanah Silam Fendi Kachonk



 Ditulis oleh Yuli Nugrahani, Lampung.
................................................................




Judul buku      : Tanah Silam, kumpulan puisi.
Penulis            : Fendi Kachonk
Lukisan cover : Hidayat Raharja
Penerbit          : Komunitas Kampoeng Jerami
Cetakan I        : Agustus 2015


Saya termasuk beruntung karena membaca Tanah Silam lebih dini dibanding orang-orang lain yaitu saat buku ini masih berupa manuskrip. Mungkin bukan orang yang pertama membacanya karena sebagian dari puisi-puisi Fendi dalam buku ini sudah pernah dipublikasikannya di berbagai media, dan mengingat bahwa Fendi mempunyai banyak sahabat, pastilah dia pernah meminta seseorang atau beberapa orang untuk membacanya.

Tapi menjadi orang yang tak tertinggal tentu sangat menyenangkan. Awalnya, saya membacanya dengan mengalir seperti biasa, seperti kebiasaan saya saat membaca puisi-puisi. Lalu saya sadar bahwa puisi-puisi itu belum selesai proses editingnya. Jadi lebih baik saya diamkan saja puisi-puisi hingga nanti fix, saat dianggap sudah selesai sebagai puisi. “Editingmu belum selesai, Fendi. Nanti kubaca lagi kalau sudah beres.” Kataku pada penulisnya, setengah menuduh setengah berharap.

Walau saya masih sering memalukan diri sendiri dengan kesalahan-kesalahan ketik, kelalaian editing, tapi saya selalu sok jika sudah mencela-cela karya orang. “Huruf besar dan kecil yang salah lengkap, spasi yang kelewatan, huruf yang dua kali tertulis, istilah yang salah,... bla, bla, bla...” Selalu ada pemakluman pada kesalahan-kesalahan, tapi saat editing dilakukan, kita harus benar-benar yakin dengan pengetikan kita. Mesti cermat tiap huruf, kata, kalimat, bait dan seluruh bentuk puisi. Setiap huruf, tanda baca dan kata kita letakkan dalam puisi dengan tujuan tertentu. Maka hal itu mesti disadari oleh penulisnya.

Saat Fendi sang penulis mengatakan puisi-puisi itu sudah selesai beberapa waktu kemudian, dia mengirimkan ulang, dan saya mulai membacanya dengan sungguh-sungguh. Fendi menawarkan beberapa tema dalam Tanah Silam ini. Yang menarik, saya merasakan puisi-puisi ini terasa begitu personal walau untuk beberapa puisi jelas Fendi menariknya dalam ranah sosial. Atau mungkin bukan menariknya dalam ranah sosial, tapi muncul dari situasi sosial. Atau bisa jadi, ini adalah bahasa bagi seseorang, seorang Fendi tepatnya, yang hidup secara personal, namun tidak lepas dari panca indera yang mengarah pada situasi sosial.

Baiklah, ini penangkapan saya yang tidak bermaksud memberikan penilaian layaknya kritikus atau apresiator sastra. Tulisan ini semata hasrat yang harus dicatat usai membaca Tanah Silam dan mengabadikan sebagian kecil yang bisa saya tangkap dari buku ini.

***

Di bagian awal saya ingin mengambil satu puisi dalam buku ini, berjudul Layang-layang Kertas. Hmmm, judul yang bisa kita bayangkan secara visual walau layang-layang tidak selalu dari kertas. Dulu masa saya masih kecil ada layang-layang yang dibuat dari daun gadung kering yang disambung-sambung, sekarang pun ada layang-layang dari plastik. Fendi memilih layang-layang kertas, bukan daun dan plastik. Ditimpanya layang-layang kertas itu dengan sisa hujan. Air. Tidak terlalu banyak karena hanya sisanya saja. Dari penggambaran ini pembaca bisa melihat setting waktu di bagian ini.

Lalu, pagi membawaku ke sini seperti layang-layang kertas merasakan sisa hujan. Bersembunyi dari kejaran dingin. Dan ternyata tak ada yang berubah. Pintu keluar dan bercak kenangan yang juga belum semuanya dihisap waktu.

Biasanya anak-anak atau orang dewasa bermain layang-layang saat siang hingga senja. Kali ini ditambah dengan sisa hujan. Tentulah layang-layang kertas yang telah kedinginan merasakan sisa hujan tidak segagah saat dalam kondisi kering. Layang-layang yang basah akan bertambah beratnya dan pemain yang layang-layangnya telah basah tidak lagi bisa melakukan permainan sebaik saat layang-layang itu kering.

Tapi permainan yang terganggu karena layang-layang basah adalah sesuatu yang wajar, yang memang selalu mungkin terjadi pada situasi seperti itu. Kewajaran yang biasa. Tak berubah dari masa ke masa selama masih memainkan layang-layang kertas. Pun ketika tidak ada matahari, tak ada angin, permainan layang-layang dari bahan apapun tidak akan bisa dilakukan. Sama dengan ingatan pada peristiwa-peristiwa, kenangan-kenangan masih berbentuk. Layang-layang basah pun masih berbentuk layang-layang. Masih sama, bahkan bercak basah dari sisa hujan, malah memberikan lukisan-lukisan pada permukaan layang-layang yang semakin tebal berat. Tidak bisa dimainkan lagi, tapi masih dipegang, terasa lebih berat dari biasanya.

Sejenak, aku terdiam diguncang bimbang dan kecemasan belum lepas dari kantung mata. Tak ada jemputan serta kalungan bunga. Tapi, tiap kejadian masih nakal menahan langkahku.

Fendi si penulis berada dalam pusaran itu. Dia rupanya sedang dalam perjalanan. Bisa jadi dia sebenarnya berharap lebih tentang adanya jemputan dan kalungan bunga yang menyambutnya di perhentian itu. Tapi semua itu tak terjadi dan tentu kekecewaanlah yang muncul. Walau tidak ada kata kecewa dalam bait ini, kita bisa membayangkan bagaimana kejadian-kejadian mengganggunya dan sebentar menahan perjalanannya dalam diam, dalam kebimbangan, mungkin juga dalam kesedihan.

Di satu sudut pendengaran, lagu Ska mengalun riang, mengajakku untuk tersenyum. Dan, tiba-tiba kumiliki energi kecil untuk kembali diterbangkan dari kota ke kota. 

Panca indera. Panca indera itulah yang membantu penulis, Fendi, untuk kembali mendapatkan kekuatan. Panca indera adalah alat yang dilengkapkan pada tubuh manusia karena manusia bukan hanya personal. Setiap manusia itu sosial, maka dia mempunyai mulut untuk bicara (pada orang lain), hidung untuk mencium bau (dari luar tubuhnya), kulit untuk merasakan segala hal (sebagai situasi di luar tubuhnya), lidah untuk merasakan benda-benda (yang ada di sekitarnya) dan telinga untuk mendengar (suara-suara dari makluk-makluk lainnya). Si penulis mendengar musik yang riang. Dia mengambil dari sekitarnya energi itu. Lalu dia tersenyum membagikan energi itu pada yang melihat senyumnya. Dia seorang personal, namun dia juga seorang sosial. Dia yakin energi sekecil apapun yang sudah ditangkapnya itu dapat diterbangkan kembali dari kota ke kota.

Secara khusus saya mengingat buku Titik Temu, antologi yang kami garap untuk hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang terbit Desember tahun 2014. Dalam perjalanannya, buku itu bisa dianggap energi kecil, yang terbang dari satu kota ke kota lain. Sumenep, Jakarta, Bandung, Bengkulu, Malang dan sebagainya. Sebenarnya tidak hanya di kota-kota itu, tapi terbang menjumpai pembaca-pembaca di kota-kota lain di seluruh Indonesia maupun luar Indonesia.

Saya membayangkan kerja panca indera si penulis, telinga mendengar musik Ska dan bibir tersenyum sebagai bahasa non verbal. Dua dari panca indera yang bekerja. Saya teringat hal itu semacam geliat buku Titik Temu itu. Energi kecil, tapi terus berlipat ganda saat diterbangkan dari kota ke kota. Saat menjumpai banyak orang. Saat dikenang diingat.

"Puluhan orang berbanjar menyiapkan foto kenangannya untuk dipajang di dinding sebagai sisa perjalanan. Aku juga. Sebelum taliku putus. Melayang lalu hilang."

Ketika keseimbangan itu telah didapatnya, penulis kembali pada kesadaran situasinya, pada perjalanan yang tengah ditempuhnya. Kali ini dia mendapatkan satu kesadaran baru, bahwa setiap masa akan selalu ada kesempatan/peluang bagi orang-orang untuk berbaris (berbanjar, berderet) dalam sebuah foto kenangan. Ingat foto-foto yang kita buat saat kelulusan sekolah, reuni, perpisahan dan sebagainya. Saat mereka yang ada dalam foto itu sudah mati pun, gambar berbentuk barisan orang-orang dalam foto masih akan melanjutkan keabadiannya sebagai sisa perjalanan mereka. Bahkan dikisahkan kembali pada orang-orang lain, anak-anak, dan seterusnya.

Fendi menariknya kembali pada dirinya secara personal. Dia tidak akan bisa lari juga dari kepastian itu. Suatu ketika, peristiwa transenden akan sampai padanya, tali hidupnya, tali perjalanannya akan putus, melayang dan hilang. Saya membayangkan kesadaran yang ditulis di akhir puisi ini, pastilah membawa si penulis pada kegembiraan walau harus diakui agak sendu, haru, atau hening. Kesadaran itu punya andil untuk menghidupkan dirinya, lalu kembali pada perjalanan-perjalanannya, dan melangkah riang. Dan itu tepat, karena Fendi menulis puisi ini saat dia berada di stasiun kota (seperti ditulis di bagian akhir puisinya), entah kota mana, entah mau kemana.

Berikut ini puisi lengkapnya :

LAYANG-LAYANG KERTAS


Lalu, pagi membawaku ke sini seperti layang-layang kertas merasakan sisa hujan. bersembunyi dari kejaran dingin. Dan ternyata tak ada yang berubah. Pintu keluar dan bercak kenangan yang juga belum semuanya dihisap waktu.

Sejenak, aku terdiam diguncang bimbang dan kecemasan belum lepas dari kantung mata. Tak ada jemputan serta kalungan bunga. Tapi, tiap kejadian masih nakal menahan langkahku.

Di satu sudut pendengaran, lagu Ska mengalun riang, mengajakku untuk tersenyum. Dan, tiba-tiba kumiliki energi kecil untuk kembali diterbangkan dari kota ke kota. 

"Puluhan orang berbanjar menyiapkan foto kenangannya untuk dipajang di dinding sebagai sisa perjalanan. Aku juga. Sebelum taliku putus. Melayang lalu hilang."

Stasiun Kota, 21 Maret 2015

Puisi-puisi banyak yang bersifat demikian. Bahasa personal dalam situasi sosial. Siapa yang bisa lepas dari situasi sosial? Demikian pun puisi sebagai bahasa, sebagai alat komunikasi, terikat oleh hal itu.

Yang tidak biasa, puisi-puisi Fendi ini mengentalkan bahasa tidak untuk dirinya sendiri. Mungkin, bahasa personal dalam ranah sosial sudah biasa dipakai atau secara otomatis muncul dalam diri penyair-penyair. Yang tidak biasa dan tidak otomatis adalah ketika puisi itu mulai ditulis sehingga pesan-pesan mampu diperas oleh pembacanya saat membacanya.

Ada beberapa puisi Fendi yang meletakkan relasinya dengan orang lain sebagai dasar bagi penulisannya. Maka sapaan-sapaan pun mengalir dari sana untuk kemudian ketika dibaca oleh orang lain, pembaca itu akan merasa bahwa : “Puisi ini adalah milikku. Puisi ini adalah untukku.” Dan itulah keunggulan sebuah puisi, yaitu ketika dia mampu menyentuh setiap pembacanya. ****