Jumat, 28 Juli 2017

SALAMEDAN HARI PUISI INDONESIA (HPI) 2017 DI SUMENEP

Bertempat di Sanggar Keramat Ganding Sumenep dan bertepatan pada Hari Senin, 24 Juli 2017 dari titik jarum jam 20.30 WIB, pelan-pelan tapi pasti beberapa kawan telah berkumpul untuk mengikuti kegiatan Hari Puisi Indonesia (HPI) 2017.










Sebelumnya, kegiatan HPI Sumenep melalui beberapa tahapan dalam mata rantai acara yaitu 22-23 Juli 2017, Sanggar Musafir membuka acara HPI Sumenep dengan agenda lomba baca puisi. Dalam ingatan saya, beberapa Komunitas yang hadir adalah: Bengkel Teatre yang mengisi acara dengan pertunjukan teater yang berjudul Dimensi yang Lain. Adapula Komunitas Bunyamin dengan pembacaan puisi. Sedangkan Sanggar Aliens menyuguhkan musikalisasi puisi yang disambungkan dengan musikalisasi puisi dari kawan-kawan TKB dan dari Sanggar Keramat. Pun Komunitas Rumah Kita bersedia dari awal memandu jalannya acara bersama Sanggar Permata. Ada lilin, ada obor, musik dan teater, tadi malam acaranya sederhana, santai dan semuanya berjalan lancar meski ada kendala teknis di lampu penerangan tapi semuanya juga mengalir sebagaimana air mencari tempat untuk sampai.



Ya acara yang secara proses sangat alami ini dengan bermodal hanya sebatas kecintaan pada puisi, lebih-lebih pada proses diri sendiri. Dalam sambutan yang diwakili oleh Perwakilan Forum Belajar Sastra ada himbauan untuk mencintai proses, menghormati semua proses komunitas manapun karena tujuan sejatinya berkomunitas adalah belajar untuk menuju komunitas yang sesungguhnya yaitu bermasyarakat, panggung sejatinya panggung adalah dunia dan masyarakat itu sendiri.



Akhirnya malam ketiga sama juga dengan malam yang kian larut, lagu dan puisi Menjadi Malam dinyanyikan bersama dipandu oleh ketua pelaksana Mohammad Ramsi Assahra sampai di titik jam 22.45 WIB. Setelah menjadi malam yang tak mudah adalah gambaran bahwa dalam proses juga tak mudah. Tapi kebersamaan juga seperti malam yang turut larut.





Acara doa bersama dan pemotongan Tumpeng diiringi dengan lagu Indonesia Raya menjadi pertanda puncak malam ketiga di Sanggar Keramat Ganding. Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Selesailah acara semalam ditandai dengan tumpeng yang lenyap dari nampan. Salam. (Fendi Kachonk)

Kamis, 25 Mei 2017

Buku Puisi Halaman yang Lain Fendi Kachonk

 Mengimajinasikan Yang Lain

Oleh Jamal D. Rahman


                Membaca buku puisi ini pertama-tama perhatian kita akan tertarik pada diksi yang lain. Bukan saja karena frase yang lain merupakan judul buku (dan itu saja sudah membetot perhatian kita), melainkan juga merupakan bagian judul seluruh puisi. Dapat dipastikan bahwa frase yang lain akan muncul berulangkali dalam seluruh puisi. Di satu sisi, hal itu menunjukkan bahwa diksi yang lain dalam buku puisi Fendi Kachonk ini memiliki arti penting. Di lain sisi, ia menunjukkan intensitas usaha sang penyair dalam memaknai, menggali, mengimajinasikan, dan memperluas cakupan makna yang lain untuk puisi-puisinya.
                Dilihat dari perjalanan kepenyairan Fendi Kachonk, ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari apa yang telah dia mulai sebelumnya. Dalam buku puisinya Surat dari Timur (2016), dia sudah beberapa kali menggunakan diksi yang lain. Dalam puisi “Seseorang yang Lain”, misalnya, penyair memainkan asosiasi yang lain antara keterasingan dan kesunyian di satu sisi, antara kedangkalan dan harapan baru yang buram di lain sisi.

 Fendi menulis:
Seseorang yang lain, mengirimkan pesan lewat tubuh yang lain
menjadi petapa asing di kamar-kamar yang menyekap sunyi
tak bisa berlari dari bayang yang lain karena tubuh
tempat orang melakoni kenyataan sebagai sebuah hiburan
dari tubuh-tubuh yang siap menjadi yang lain, meski dirinya
tak paham ke mana arah perubahan, orang yang dilainkan.

Dalam puisinya yang lain, “Tangkai Kabut”, Fendi menggunakan diksi yang lain secara lebih reflektif. Di situ, beberapa imaji tampak muram bahkan pedih, namun di balik itu tampak suatu harapan. Paradoks ini seakan suatu keniscayaan, dimana rasa sakit mesti dijalani sebagai suatu ritus menuju harapan yang menjanjikan kenikmatan: tubuhku dikeruk demi kelahiran/ yang lain. Ibarat jagung, ia harus merasakan sakitnya direbus atau digoreng, demi memberikan gizi dan kenikmatan —sebagai kelahiran baru— bagi penyantapnya. Dalam puisi ini, larik-larik Fendi terasa efektif lagi sugestif:

….
Di liku-liku jalan
yang tak menyemai kata-kata
seperti pasir,
tubuhku dikeruk demi kelahiran
yang lain
…. 

Angka dan Bilangan
                Usaha Fendi Kachonk menggali makna dan mengimajinasikan yang lain tampak lebih intens dalam buku puisi keempatnya ini. Intensitas usahanya dapat dilihat antara lain dari kuantitas penggunaan frase yang lain dalam puisi-puisinya. Buku ini memuat 50 puisi, yang masing-masing judulnya menggunakan frase yang lain. Jadi, frase yang lain muncul sebanyak 50 kali dalam judul puisi. Sementara itu, dalam tubuh seluruh puisi, frase yang lain muncul sebanyak 40 kali. Maka, dalam seluruh puisi dalam buku ini, frase yang lain muncul sebanyak 90 kali. Berkaitan dengan jumlah penggunaan frase yang lain dalam seluruh puisi, ada empat angka yang penting: 50, 40, dan 90.
            Dilihat dari numerologi, angka 50, 40, dan 90 memiliki daya tarik tersendiri, sebagaimana angka-angka itu memiliki daya tarik —bahkan memiliki arti penting— dalam berbagai tradisi dan budaya, dari zaman dahulu sampai sekarang, dari tradisi Yunani sampai tradisi Indonesia, dari agama Yahudi sampai agama Islam. Dalam Islam, bilangan-bilangan tersebut tentu saja mengandung dimensi relijius. Angka-angka itu akan menarik jika dilihat terutama sebagai kelipatan: angka 50 merupakan kelipatan sepuluh dari angka 5; angka 40 merupakan kelipatan sepuluh dari angka 4; angka 90 merupakan kelipatan sepuluh dari angka 9. Dengan demikian, angka 50, 40, dan 90 masing-masing merupakan kelipatan sepuluh dari angka 5, 4, dan 9.
Angka 5, 4, dan 9 digunakan dalam berbagai konteks dan keperluan, yang tentu saja mengandung arti pentingnya masing-masing dalam berbagai tradisi dan kebudayaan. Angka 5 berkaitan dengan hal-hal yang sangat fundamental dan tentu saja berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Lihat, misalnya:  pancaindera adalah 5 indera manusia; tangan dan kaki manusia masing-masing memiliki 5 jari; Pancasila mengandung 5 sila; ada 5 rukun Islam; ada 5 shalat wajib, dll. Dapat dikatakan bahwa angka 5 merupakan bilangan yang sentral dalam kehidupan manusia.
Sementara itu, angka 4 pertama-tama dapat dipandang sebagai bilangan ganda dari anggota tubuh manusia yang berpasangan (mata, telinga, tangan, dan kaki). Tapi yang lebih penting, ia berkaitan dengan hal-hal di luar diri manusia namun menentukan pola hidup manusia itu sendiri, bahkan secara langsung. Manusia selalu berada dalam 4 penjuru mata angin. Manusia berada di tengah alam yang mengandung 4 sifat, yaitu panas, dingin, kering, dan lembab. Sementara itu, Al-Qur’an (At-Tawbah/9: 36) menyebut ada 4 bulan suci (arba`atun hurum), yaitu Dzul Qa`dah, Dzul Hijjah, Muharrom, dan Rajab (menarik dicatat bahwa meskipun Ramadan merupakan bulan yang paling istimewa dalam Islam, Al-Qur’an tidak menyebutnya sebagai bulan suci). Bilangan 4 yang dalam Al-Qur’an mengandung dimensi rohani itu diterjemahkan ke dalam sistem kerohanian Islam: ada 4 tahapan perjalanan rohani: syariat, tarekat, hakekat, dan ma’rifat; diterjemahkan pula ke dalam sistem metafisika Islam: ada 4 alam, yaitu nasût (alam manusia), malakût (alam malaikat), jabarût (alam kekuasaan Tuhan), dan lahût (alam ketuhanan).
Adapun angka 9 merupakan bilangan tertinggi. Dalam tradisi relijius Islam, angka 9 pertama-tama dikaitkan dengan Tuhan sebagai ekspresi dimensi tertinggi dan sempurna Tuhan itu sendiri. Demikianlah maka 99 asmaul husna merupakan kelipatan 11 dari bilangan 9. Dalam konteks itu, angka 9 bukannya digandakan dalam kelipatan sepuluh, melainkan dengan angka 1 (yaitu 11) sebagai angka yang paling dekat dengan bilangan Tuhan yang Mahaesa. Namun dalam hubungannya dengan manusia, meskipun merupakan bilangan tertinggi, bilangan 9 tidak berarti sempurna, melainkan nyaris sempurna. Angka 9 melambangkan kedekatan pada kesempurnaan.
Dalam hubungannya dengan manusia, bilangan lengkap dan sempurna adalah angka 10. Nilai sempurna satu mata pelajaran di dunia pendidikan, misalnya, adalah 10 (atau kelipatan sepuluhnya, 100). Itulah sebabnya, kelipatan sepuluh sangat sering digunakan, sebagaimana dapat kita lihat antara lain dalam penggunakan diksi yang lain dalam buku ini. Angka 10 atau kelipatannya mengekspresikan cita, harapan, dan doa akan kelengkapan dan kesempurnaan. Demikianlah maka kelipatan sepuluh dipandang mengandung makna tertentu yang berkaitan dengan kesempurnaan. Tidak mengherankan kalau Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dalam usia 40 tahun, kelipatan sepuluh dari angka 4. Dalam usia 40, Nabi Muhammad memiliki kelengkapan, kematangan, dan kesiapan rohani untuk menerima wahyu.
Jumlah penggunaan diksi yang lain dalam semua puisi dalam buku ini, yang seluruhnya berjumlah 90, boleh ditambah lagi dengan jumlah penggunaan diksi yang lain dalam daftar isi yang sebanyak 50. Maka jumlah total penggunaan diksi yang lain mulai daftar isi sampai seluruh puisi adalah sebanyak 140. Ini punya daya tarik tersendiri lagi. Angka 140 merupakan kelipatan dua puluh dari angka 7. Dalam berbagai tradisi dan kosmologi, termasuk kosmologi relijius, angka 7 sangat sering digunakan: ada bintang 7; ada minuman 7 Up; ada 7 hari; ada 7 lapis langit; surat Al-Fatihah (surat pertama dalam Al-Qur’an) terdiri dari 7 ayat, yang sering disebut sebagai 7 ayat yang paling sering dibaca (as-sab`u ‘l-matsânî); thawaf mengelilingi ka’bah sebanyak 7 putaran; sa’i antara shafa dan marwa sebanyak 7 kali; melempar jumroh sebanyak 7 kali lemparan, dll.
Dalam konteks puisi Fendi Kachonk, disadari atau tidak oleh sang penyair, angka-angka penggunaan frase yang lain dalam puisi-puisinya bukan saja menunjukkan intensitas usahanya dalam memaknai dan mengimajinasikan yang lain. Lebih dari itu, ia merefleksikan suatu spirit dan makna yang tertanam dalam-dalam di bawah kesadaran struktur tradisi dan kebudayaan. Dikatakan dengan cara lain, lebih dari sekadar mengekspresikan kesungguhan penyair dalam mengimajinasikan yang lain, penggunaan frase yang lain dalam angka-angka tertentu sesungguhnya mengandung makna tertentu pula. Memang, angka-angka itu lebih merupakan kebetulan. Barangkali hanya angka 50 (puisi) yang
secara sadar dipilih penyair. Tapi meskipun suatu kebetulan, bagaimanapun angka-angka itu bermakna dalam konteks tradisi dan kebudayaan.
            Dapat diduga bahwa angka 50 (puisi) merupakan angka yang paling berarti bagi penyair, khususnya dalam konteks isu (diksi) utama yang diusung buku puisi ini. Mungkin saja penyair memilih bilangan 50 (puisi) hanya sebagai kelaziman atau angka minimal jumlah puisi yang layak untuk sebuah buku kumpulan puisi. Bukan atas dasar pertimbangan yang serius dan dalam. Tapi bagaimanapun, jauh di balik angka tersebut terkandung suatu arti yang, langsung atau tidak, memberikan suatu tenaga pada isu utama yang diusung buku puisi itu sendiri. Jika sebuah isu dibicarakan, diekspresikan, dan diartikulasikan dalam 50 puisi, maka betapa pentingnya isu tersebut sebagai renungan seorang penyair, terutama di mata penyair sendiri.
                Demikianlah maka penggunaan diksi yang lain dalam kelipatan sepuluh adalah harapan akan kesempurnaan, meskipun tentu disadari bahwa hal tersebut tak akan dicapai. Sejurus dengan itu, bilangan 50 menyiratkan hal-hal yang sangat mendasar dan fundamental sebagai persiapan atau prasyarat bagi kematangan yang diartikulasikan dalam bilangan 40, guna mencapai angka tertinggi yang mendekati kesempurnaan dalam bilangan 90. Ditambah lagi dengan bilangan 140 yang merupakan kelipatan duapuluh dari angka 7, maka seluruh bilangan ini secara tidak langsung mengekspresikan harapan dan usaha maksimal penyair dalam mengimajinasikan yang lain.

Permainan Diksi
Arti penting diksi yang lain dalam puisi Fendi akan sangat terasa jika ia diletakkan dalam konteks pengkhususan arti yang lain dalam wacana intelektual kita. Khususnya dalam wacana politik identitas dan multikulturalisme, arti yang lain (the other) disempitkan sedemikian rupa hingga hampir-hampir bermakna tunggal. Ia mengacu pada orang, komunitas, tradisi, dan budaya yang dialienasi secara kultural dan sosial. Yang lain didefinisikan sebagai sesuatu yang cenderung ditampik, ditolak, dan tak dikehendaki baik secara sosial, budaya, maupun politik.
Maka dalam relasi sosial-budaya, yang lain dipandang berada dalam posisi tidak beruntung bahkan dirugikan, apalagi posisi-tawar mereka lemah dalam berbagai relasi-kuasa yang tidak setara. Mereka bahkan cenderung didiskriminasi baik secara samar maupun terang-terangan, baik secara halus maupun keras. Yang lain adalah sesuatu yang tak dikehendaki. Dalam arti itu, frase yang lain seakan terkerangkeng dalam konotasi-konotasi sosial-budaya yang kalah dan terpinggirkan —yang karenanya tentu harus dibela— dalam berbagai relasi sosial, budaya, dan politik.
Dalam konteks itu, puisi Fendi Kachonk terasa membebaskan frase yang lain dari kerangkeng konotasi-konotasi sosial, budaya, dan politik. Yakni dari kecenderungan penyempitan artinya terutama dalam wacana intelektual politik identitas. Puisi-puisinya mengekspresikan suatau gagasan bahwa yang lain mengandung nuansa yang cukup kaya bahkan melimpah. Jika dalam wacana politik identitas, asosiasi diksi yang lain
cenderung dipersempit dan dibatasi, dalam puisi-puisi Fendi asosiasi diksi yang lain justru diperluas sebagai bentangan yang tak berbatas. Demikianlah maka puisi-puisi Fendi Kachonk adalah usaha menggali berbagai segi, nuansa, dan asosiasi frase yang lain, sekaligus menampik kecenderungan penyempitan maknanya. Dengan 50 puisi banyaknya, usaha itu tentu cukup intens.
Puisi-puisi Fendi memperlihatkan bahwa ada kalanya yang lain memang tak diinginkan, namun ada kalanya pula yang lain justru diinginkan. Ada kalanya yang lain hanyalah sesuatu yang berbeda dari apa yang ada atau pernah dialami —tanpa konotasi merendahkan satu atas yang lain. Ada kalanya pula yang lain adalah perasaan teralienasi atau terasing dari keadaan atau suasana tertentu. Nuansa-nuansa itu kadang terasa jelas, namun kadang terasa samar-samar sebagai denyaran-denyaran perasaan yang sugestif. Kadang terasa sendu bahkan pedih, namun kadang terasa riang misalnya oleh keadaan yang menjanjikan harapan.
Jadinya, puisi Fendi seakan bermain-main dengan diksi yang lain, kadang dengan lincah, kadang dengan gugup. Bermain-main dengan diksi yang lain tentu saja merupakan strategi untuk menggali berbagai segi, nuansa, dan konotasi yang lain itu sendiri.  Demikianlah maka dalam bermain-main dengan diksi yang lain, puisi “Pagi yang Lain” misalnya sampai pada asosiasi atau makna ganda yang kontradiktif. Kita baca salah satu bait puisi tersebut:

Ini kali kesekian
menemukan pagi yang lain
di dinding menangkup dingin
merangkum derita dunia;
berbagi cara menelan air mata.

                Bait puisi di atas mengemukakan imaji yang muram dan sedih, suatu suasana pagi ketika di dinding menangkup dingin/ merangkum derita dunia;/ berbagi cara menelan air mata.Di situ, Fendi bermain-main dengan diksi pagi yang lain, yang dengan cara sedemikian rupa mengandung asosiasi ganda, ambigu, bahkan bertentangan.
Pertama, pagi yang lain berarti pagi yang muram namun berbeda dengan (dan bukan) pagi-pagi yang muram sebelumnya. Pagi kemaren atau kemarennya lagi adalah pagi yang muram, dan pagi yang ditemukan kali ini adalah pagi muram yang lain. Ada banyak pagi yang muram, namun yang ditemukan kali ini adalah pagi muram yang lain, bukan pagi yang muram kemaren atau kemarennya lagi. Di sini, asosiasi yang mucul adalah sejumlah pagi yang muram. 
Kedua, pagi yang ditemukan adalah pagi yang berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Jika pagi yang ditemukan itu adalah pagi yang muram, maka tentulah pagi-pagi sebelumnya tidaklah muram. Karena pagi yang muram disebut pagi yang lain, maka beberapa pagi sebelumnya tentulah pagi yang tidak muram, bahkan mungkin pagi yang ceria. Ada banyak pagi, namun hanya pagi yang ditemukan kali ini yang muram. Di sini, asosiasi yang muncul adalah sejumlah pagi yang tidak muram, bahkan mungkin pagi yang ceria.
Sementara itu, dalam puisi “Semusim yang Lain”, permainan diksi yang lain mengandung pergeseran makna dan asosiasi. Kita baca petikan puisi tersebut:

….
Senyum embun itu aku lukis di jari manis saat musim-musim yang lain menjadi kisah yang menyebalkan dan memilukan. Tapi masih teringat: malam adalah pantai dan aroma pasir-pasir menerpa bayang bulan dengan malu-malu seolah berkata: berputar seperti gasing dan baling-baling diterpa udara, diayun-ayunkan oleh nasib. Tapi sepetak risalah perjalanan mestinya juga belum menemui gang buntu. Pun bila redup, ibarat lilin dan lentera, aku menjadi sumbu yang lain, jadi bara, jadi segala yang bisa membunuh ketakutan.

“Semusim, berganti-ganti: laut yang tenang, gelombang yang pasang-surut, gerimis yang liris. Aku melalui beberapa waktu: mendekap kemarau berpayung dingin dan berselimut hujan. Di sini belum ada sirene kapal untuk memulangkan harapan. Harus bergegas menuju barak kehidupan yang lain, meski akan sama akhir ceritanya: ada sedih, ada duka, ada pelukan dan kecupan kematian.”

                Perhatikan tiga kalimat (dalam puisi di atas), dimana Fendi bermain-main dengan diksi yang lain, sebagai berikut:
(1) musim-musim yang lain menjadi kisah yang menyebalkan dan memilukan.
(2) Pun bila redup, ibarat lilin dan lentera, aku menjadi sumbu yang lain, jadi bara, jadi segala yang bisa membunuh ketakutan.
(3) Harus bergegas menuju barak kehidupan yang lain, meski akan sama akhir ceritanya: ada sedih, ada duka, ada pelukan dan kecupan kematian.
Dalam tiga kalimat tersebut, diksi yang lain digunakan dalam suatu permainan yang mengandung konsekuensi pergeseran makna dan asosiasi. Musim yang lain menjadi kisah yang menyebalkan tentu mengandung makna dan konotasi musim yang tak diinginkan. Aku menjadi sumbu yang lain, jadi bara, jadi segala yang bisa membunuh ketakutan mengandung makna dan konotasi sesuatu yang diinginkan. Bergegas menuju barak kehidupan yang lain mengandung makna dan konotasi sesuatu yang diinginkan. Dengan demikian, dalam permainan diksi yang lain dalam puisi tersebut, terjadi pergeseran makna dan asosiasi, yaitu dari yang lain sebagai yang tak diinginkan, ke yang lain sebagai yang diinginkan, lalu bergeser lagi ke yang lain sebagai harapan (yang tentu diinginkan).
Demikianlah membaca buku ini kita dapat menikmati hasil kerja seorang penyair bermain-main dengan suatu diksi dalam puisi-puisinya, sebagai strategi untuk menggali segi-segi tak terduga dari diksi itu sendiri. Tentu juga sebagai renungan dari kerja kepenyairannya. Salam.

                                                                                                Kinabalu, 4 April 2017


Jumat, 28 Oktober 2016

KONFLIK BATHIN DAN JIWA YANG DINGIN DI “KAFE”




KARYA YULI NUGRAHANI
Sepenggal Catatan Penikmat, oleh: Fendi Kachonk

Salah Satu Cabang Cemara Kumcer Yuli Nugrahani


Aku sendiri tidak akan tahan, berdiri atau menunggu. Bahkan mungkin akan banyak gugatan bila membaca cerpen Yuli Nugrahani ini. Ada rasa sebel, geram yang pelan-pelan melahirkan pemberontakan. Entahlah! Aku tak habis pikir bila aku adalah pelaku. Mungkin memang akan terus diiris-iris oleh kesunyian itu. Bagaimana tidak? Aku membayangkan tiga tahun tidak bertemu dengan seseorang yang bisa setiap detik aku ingat, senyumnya, bahkan setiap hal yang dibencipun darinya akan jadi tempat untuk pulangnya rindu ke dalam dada.
Suasananya terbangun dengan manis, romansa ruangan yang akrab dan kita pernah ada dalam ruangan tersebut. Oleh karena itu judul cerpen Yuli Nugrahani di Bukunya “salah satu cabang cemara” yang paling saya sukai begitu hidup, “KAFE”. Dengan judul kafe ini saja, aku sendiri telah ditarik ke dalam suasananya. Tak perlu lagi banyak susunan kata untuk membangun suasananya. Bagian dari tema dan judul ini begitu akrab begitu dekat diri sendiri. Suasana kafe, musik yang mengalun pelan, kopi entah juga makanan yang seoalah jadi teman yang baik.
Selanjutnya, aku ingin menceritakan pengalamanku pribadi ketika cerpen “Kafe” karya Yuli Nugrahani ini dibacakan dengan penuh perasaan oleh seorang teman dari Forum Belajar Sastra (FBS) dan Komunitas Kampoeng Jerami waktu peluncuran dua buku terbitan Komunitas Kampoeng Jerami. Fia, panggilan akrab temanku membaca dengan perasaannya. Dan, ah seisi forum begitu terhantar pada keheningan dan cara membacanya Fia cukup ritmis, mengaluri ruang dan aku sendiri merasakan haru yang luar biasa. Buku itu aku berikan ke Fia pada waktu itu aku memintanya memilih sendiri cerpen yang disukai. Sebentar saja Fia langsung diam di pojok ruang dan aku melupakannya. Sampai pada detik-detik ia akan membacakan cerpen ini, Fia mendekatiku. “Kak, aku suka baca cerpen berjudul “Kafe” ini, jadi aku akan baca ini”
Mungkin, karena berbagai alasan, Kafe cerpen Karya Yuli Nugrahani nuasanya sangat dingin, sangat kental sekali suasananya, dingin itu mungkin bagian yang dimaksudkan sebagai bangunan tematik dari Cerpen “Kafe” yang menceritakan dua orang yang lama tak bertemu dan perpisahannya juga tanpa ada alasan: tiba-tiba hilang, tiba-tiba kembali setelah tiga tahun lamanya. Seperti penggalan cerita di bawah ini:

Tiga tahun berlalu tanpa kuketahui penyebab hilangnya komunikasiku dengan Nad. Dua hal yang kupikirkan : Nad sudah mati atau Nad sangat membenciku. Dua alasan yang sama-sama tak bisa kuterima. Tanpa penjelasan dan permintaan maaf seperlunya, kehadiran Nad menyentak perasaanku. Seperti jin keluar dari botolnya, Nad datang begitu saja setelah menyampaikan pesan singkat lewat ponsel beberapa hari lalu :
Pesan pertama, “Aku ingin ketemu.”
Pesan kedua,”Aku rindu. Andai kau membolehkannya.”
Pesan ketiga,”Six Cafe, 12 Okt jam 19. ”
Usai aku membaca tiga pesan berturutan itu aku langsung meneleponnya, tapi tak bersaut. SMS balasanku tidak dijawab. Jadi aku datang pada hari dan jam sesuai pesannya, dan memutuskan menikmati kegelisahan-kegelisahan yang muncul karena keputusan itu. Mungkin itu hanya SMS seorang penipu, tapi aku tak boleh kehilangan harapan untuk kembali berjumpa Nad. Selama tiga tahun aku sudah melakukan segala upaya tanpa hasil untuk menemuinya kembali. Dan kini harapan itu menyeruak seperti sulur-sulur sirih yang tumbuh di antara batu.
Sungguh, Nad benar-benar datang pada tempat, hari dan jam yang dia bilang.
“Aku mendapat kecelakaan malam itu. Kesalahpahaman yang berbuntut panjang. Aku tidak puny kesalahan apa pun kecuali tidak menghubungimu.”

Nah, begitulah, sepenggal kisah tentang dua orang yang lama saling berpisah tanpa alasan dalam cerpen ini. Meski hakikatnya tak ada yang tanpa sebab dan tanpa alasan. Tapi, kata tanpa alasan itu aku maksudkan adalah ketika ruang komunikasi yang lama terbangun dan tiba-tiba hilang, tiba-tiba datang. Menjadi menarik untuk aku masuki sebagai kejelian dari cara dan teknik menulisnya Yuli Nugrahani di buku “salah satu cabang cemara” kumpulan cerpennya dan salah satu yang paling aku suka adalah “kafe”. Sebab, alasanku begitu banyak cerpen yang semua memainkan peran-peran keluar, tapi dalam cerpen-cerpennya Yuli lebih berperan ke dalam jiwa. Yang aku akan pertegas sebagai sesuatu kekayaan dalam cerpen-cerpennya Yuli Nugrahani lebih menajamkan pada konflik bathin.
Aku mesti menganggap perlu membicarakan ketika buku ini diluncurkan bersamaan dengan pertemuan rutinnya “Forum Belajar Sastra” Komunitas Kampoeng Jerami ketika tiba-tiba Fia begitu menikmati, begitu memahami, mungkin aku mendapatkan Fia selaku pembaca sangat menikmati bahkan aku melihat Fia seolah-seolah membicarakan dirinya sendiri. Iya, Fia adalah pelaku di cerpen itu dan walhasil alunan gitar yang mengiringi pembacaan cerpen itu serasa sangat serasi dan melahirkan kedinginan sebagaimana dinginnya perbincangan seorang “aku dan Nad” dalam cerpen kafe karya Yuli Nugrahani.

Nad pasti melihat rasa tidak percaya yang terpancar dari mataku. Dia tidak berusaha memahami dan menjawab penasaran itu. Dia mengabaikan perasaanku sama sekali (atau pura-pura mengabaikan?) walau matanya tak putus melihatku sejak mata kami bertemu, sejak tubuhnya muncul di depan pintu kafe beberapa menit yang lalu. Dia berbicara dengan nada biasa seolah kami baru saja terpisah selama beberapa jam. Seolah sebuah kecelakaan yang menimpanya entah apapun seperti tergambar dalam kalimatnya, hanyalah peristiwa biasa saja.
Nad menyalamiku (masih dengan menatapku) lalu duduk dan mulai mengulang kisah-kisah yang pernah kami alami sebelum tiga tahun perpisahan. Kisah yang aku tahu karena memang kami terlibat bersama-sama di dalamnya. Aku tak perlu mendengarnya sungguh-sungguh karena aku juga masih mengingatnya.
Jadi aku memperhatikan wajahnya yang bergerak, berkerinyut mengikuti gerak mulutnya dan segala ekspresi yang ditampilkannya. (Suaranya hanya terpotong sebentar oleh datangnya pelayan yang mengantar pesanan kami.) Dan setiap detil baru yang kudapatkan pada wajahnya, membuat sebulir air mata matang di ujung mataku. (Dia tidak melihatnya, atau pura-pura tidak melihatnya.)

Dari penggalan di atas, betapa sangat kuatnya. Mungkin ini yang dianggap kepura-puraan yang sungguh amat menyiksa. Rindu ddan banyaknya pertanyaan tapi semua tak bisa diungkapkan secara harfiah. Bagi “Aku dan Nad” dalam cerpen “Kafe” karya Yuli Nugrahani seoalah pertemuan bahasa itu telah larung dalam gerak, dalam tatapan, dalam sesekali obrolan yang sebenarnya tidak mengarah pada tujuan yang sesungguhnya. Atau bisa dibilang “Konflik Bathin” ini akan jadi “karekteristik seorang Yuli Nugrahani” dalam cerpen-cerpennya.
Entahlah! Keunikan dan ketajaman memainkan konflik bathin ini, aku kira patut dapat apresiasi. Kenapa? Seorang penulis bisa sangat mampu menggambarkan dengan mudah dalam bentuk tulisan, bisa saja kata-katanya lepas dan sangat sarkas. Tapi, tidak dalam cerpen “Kafe” ini. Dalam cerpen ini: dingin dan pertempuran bathin yang sama-sama ditutup-tutupi mampu menjadi satu kekuatan tersendiri dalam menarik perhatian pembacanya.
Jadi, pada suatu jeda, tanpa sadar (atau mungkin justru itu satu-satunya keingintahuanku saat ingin bertemu dengannya) aku bertanya dengan nada rendah, “Nad, mengapa kau tak menghubungiku selama ini?” Ada nada terburu-buru dalam suaraku.
Nad terdiam, menyentuh jemari tangan kiriku, menekannya beberapa kali seperti sebuah pijitan refleksi. Kukunya nyaris menyakitiku tapi aku tak peduli. Aku senang disentuh olehnya entah dengan cara apapun. Bahkan aku lebih suka bila dia mencubitku, menamparku atau menyakitiku dengan tubuhnya asalkan dia lakukan dengan nyata, karena saat itulah aku tahu bahwa aku sedang bersamanya.
Dia mencondongkan tubuhnya.
“Tiga tahun aku tak bisa kemana-mana bahkan untuk menemuimu. Kini aku bebas, walau sebentar, aku bebas. Tapi setelah ini aku masih harus melakukan beberapa pekerjaan yang tertunda. Aku rindu padamu, jadi aku menemuimu. Percayalah.”
Dia melihat jam di dinding kafe dengan ujung mata.
“Kau akan pergi lagi.” Suaraku terdengar aneh mengambang pada ruang di antara kami.
“Tapi percayalah. Aku sama sekali tidak bersalah. Aku masuk dalam situasi ini karena kesalahan. Kesalahpahaman. Kecelakaan. Tepatnya kau bisa sebut sebagai kecelakaan.”

Akhirnya, ketajaman konflik bathin itu mesti dipindah-pindah dari obrolan yang satu ke obrolan yang lain. Sampai, ketika lama waktu bergulir dan seolah ini disengaja untuk menghabiskan pertemuan hanya untuk hal-hal yang lain. Atau semacam itulah ketika komunikasi berjeda sekian tahun, butuh cara lagi untuk saling mengenal, saling (pura-pura) menjadi orang yang asing. Padahal senyatanya, kerinduan dan sekian banyak pertanyaan tak akan tuntas hanya sekali bertemu di Kafe itu. Namun, bagi, “aku dan Nad” dalam cerpen “Kafe” ini seolah saling memerankan kepribadian yang tak mudah untuk terus terang, tak mudah blak-blakan. Dan dari sinilah konflik sejatinya lahir jadi konflik bathin di cerpen “kafe” ini.
Dari awal sampai akhir cerpen ini sangat kuat memainkan konflik bathinnya. Tetapi, di samping keunikan “konflik bathin dan dingin” di Kafe, Yuli Nugrahani juga memiliki ciri khas yang lainnya. Semisal ia tak menentukan ending yang jelas. Dan, itu juga diperjelas oleh pengantarnya dalam buku “salah satu cabang cemara”.

Kafe bercerita tentang seorang ‘aku’ yang berada dalam penantian dan perpisahan. Si ‘aku’ sangat merindukan Nad, namun Nad bukan orang yang mudah untuk ditunggu. Keinginan untuk bertemu Nad menjadi batu sandungan bagi langkah si ‘aku’. Menjadi sumber kegelisahan sekaligus menjadi bahan pengharapan. Pada suatu waktu nanti, batu ini mungkin akan benar-benar melukai atau mungkin malah menjadi batu pijakan bagi lompatan hidup ‘aku’. Sekejap perjumpaan mereka telah menjadi sarana untuk mengambil keputusan di masa mendatang, jika diperlukan.
Saya tidak menentukan akhir yang pasti dan jelas dalam cerpen ini. Dengan cara begitu cerpen ini menjadi sindiran bagi saya sendiri yang sering kali menciptakan ‘batu-batu’ dari penantian dan perpisahan yang muncul dalam hidup. Saya yakin bahwa saya mendapatkan hikmahnya ketika saya sudah menuliskan Kafe dengan sadar. Demikian saya berharap pembaca bisa mengambil suatu pengalaman saat membaca cerpen ini.

Aku mengutip dari tulisan pengantarnya Yuli Nugrahani. Meski menurutku itu tak begitu penting. Sebab, pada tulisan-tulisannya memang Yuli Nugrahani tak ingin menutup dari segala alur ceritanya. Yuli menurutku juga tak ingin membunuh pembaca di tulisannya. Tapi, tulisannya mengajak pembaca untuk menentukan dan memilih sendiri akhir dari segala alur atau konflik dalam cerpen-cerpennya. Bukankah itu juga bisa kita baca bersama di karya-karya Borges. Pembaca dibiarkan merdeka menafsir, menghentikan atau melanjutkan segala alur dalam cerpen-cerpen tersebut. Aku pun ingin menuntaskan segala pengalamanku dan keterlibatanku dari semenjak membaca cerpen “kafe” ini.

“Bayar kopiku, ya. Jika nanti kita ketemu, aku akan menggantinya. Jika tidak, kau harus belajar mengiklaskannya.”
Nad menghabiskan kopi yang tersisa di cangkirnya, lalu meletakkan kembali cangkir itu di pinggir meja dekat siku kiriku.
“Aku harus pergi. Kau tak perlu memasukkan hal-hal ini dalam hati.”
Nad menggeser kursinya dengan tergesa. Memakai topinya (sejak kapan Nad suka pakai topi?) Lalu sebelum aku sempat mengatakan apapun dia sudah menyelinap di antara pintu yang kebetulan terbuka karena sepasang anak muda sedang memasuki kafe. Dia mendapat sedikit gerutu dari anak muda yang terkena ayunan tangannya, tapi dia lurus melangkah keluar, tidak menoleh lagi.
Nad kembali menghilang. Dia tidak meninggalkan apapun untuk kukenang, bahkan tidak memberiku sebuah cerita yang masuk akal sebagai tanda bahwa dia pernah mengunjungiku di awal tahun ini, atau bahkan tidak ada sekedar lambaian tangan.
Aku menggeser cangkirnya hingga berdampingan dengan cangkir kopiku yang masih penuh. Mungkin ada baiknya aku mengira bahwa dia sudah mati dan mulai mencari cara untuk melupakannya. Aku mulai tidak tahan dengan ketidakjelasan yang dia munculkan.
Ruang kosong dalam hatiku mulai terbuka, menganga, dan terasa nyeri.
Di luar, gerimis turun memukuli kanopi kafe. *** (2016)

Catatan ini, juga tanpa akhir yang jelas. Biarkan “Aku dan Nad” memenuhi nasibnya di pembaca. Bisa jadi “Aku dan Nad” bertemu kembali. Atau Bisa jadi semuanya sama-sama hidup klimaks di tulisan yang anti klimaks. Begitulah hidup, selalu berputar pada porosnya. Mungkin pada bagian tertentu masih akan ada cerita lain “aku dan Nad”.

Salam.